Report Jalan-Jalan

March 8, 2009 at 5:45 pm | Posted in Curhat, Fun, indonesia | 8 Comments
Tags: , , ,

Phew….. lumayan capek juga nih jalan-jalan satu harian ini. Hari ini gw jalan-jalan ke museum yang ada di Jakarta. Ada 2 museum yang gw kunjungi yaitu Museum Nasional dan Museum Fatahillah. Dan berikut ini laporannya.

Tujuan pertama adalah Museum Nasional atau yang disebut juga Museum Gajah. Karena belum pernah ke sana sama sekali sebelumnya, jadinya perjalanan pertama diiringi dengan acara nyasar pula ha..ha.. . Sebenarnya gw udah persiapan nyari alamat Museum Nasional ini lewat situs resminya. Dan tau kalo alamat itu dekat dengan istana negara. Tapi tetap aja mesti jalan kaki sekian ratus meter dulu baru sampai di Museum. Ternyata setelah sampai, persis di depan Museum Nasional ada halte busway, yang pastinya membuat akses ke Museum ini sangat mudah. Tinggal turun aja di halte Monumen Nasional, loe udah nyampe di Museum Nasional.

Gerbang Museum Nasional

Gerbang Museum Nasional

Setelah masuk gerbang, sempat ragu museumnya buka nggak ya, soalnya kelihatan sepi dari luar. Tapi ternyata buka kok, dan langsung beli karcis yang harganya murah banget, Rp 750 saja! Masuk ke dalam langsung ada ruangan terbuka yang di tengah-tengahnya ada arca-arca dari batu berbentuk binatang dan di samping kiri kanan banyak arca Hindu/Buddha seperti yang ada di Candi Borobudur. Viewnya keren!

Masuk ke ruangan berikutnya banyak sekali koleksi-koleksi bersejarah yang ditampilkan. Mulai dari tembikar, porselen, gendang dari tembaga, peninggalan VOC dan pemerintah Belanda, benda-benda sejarah dari seluruh Indonesia dari berbagai zaman, kehidupan manusia purba, dll. Gw merasa seperti masuk ke mesin waktu dan kembali ke masa lampau, dan terkagum dengan kemampuan orang-orang zaman dahulu. Contohnya ketika gw melihat gendang besar yang terbuat dari tembaga dan dihiasi ukiran yang tingkat kerumitannya cukup tinggi. Bagaimana caranya mereka bisa membuat alat seperti itu dengan teknologi yang jauh lebih sederhana dari saat ini?

Porselain

Porselen

Gendang Tembaga

Gendang Tembaga

Meriam VOC

Meriam VOC

Setelah kenyang ‘browsing’ di gedung I, gw menuju ke gedung 2. Yap, ternyata museum nasional terdiri dari 2 gedung dan kayaknya sih gedung II ini adalah gedung baru.

Lorong Gedung I ke Gedung II

Lorong Gedung I ke Gedung II

Gedung II terdiri dari 4 lantai. Koleksi di lantai 1 mempunyai kemiripan dengan koleksi di gedung I, yang isinya adalah kehidupan manusia purba dan fosil-fosil manusia purba tersebut. Di lantai 1 ini juga terdapat tengkorak manusia kerdil dari Flores yang baru ditemukan pada tahun 2003 yang lalu. Temuan tersebut membuat heboh dunia arkeolog karena baru kali ini ditemukan fosil manusia kerdil, yang mirip dengan ras hobbit di film The Lord of The Rings.

Kehidupan manusia purba

Kehidupan Manusia purba

Homo Floresiensis

Homo Floresiensis

Homo Floresiensis

Homo Floresiensis

Lantai 2 dan lantai 3 didominasi dengan koleksi benda-benda yang berasal dari luar negeri, seperti mata uang, alat pelayaran, prasasti, transportasi.

Naik ke lantai 4. Di lantai ini gw terus berdecak kagum. Karena benda-benda yang ditampilkan di sini adalah benda-benda yang terbuat dari emas, perak, berlian, permata, dan batu berharga lainnya seperti saphir dan rubi. Mulai dari benda-benda kecil seperti anting, gelang, cincin sampai ke mahkota raja yang besar, keris dan sarungnya, semua dilapisi dengan emas murni. Ada satu keris dari Bali yang membuat gw sangat kagum, karena selain sarungnya yang semua berlapis emas dan dihiasi dengan ukiran yang indah, di gagang keris tersebut bertabur batu-batu berharga seperti permata, berlian, dan saphir merah yang cukup besar. Semua batu tersebut berkilau dengan indah ketika disinari lampu display.

Menambah wawasan, bahwa pada zaman dahulu mungkin emas dianggap biasa kali ya saking banyaknya. Bahkan sampai sisir, cermin dan tusuk konde pun terbuat dari emas. Apa masih ada harta kerajaan zaman dahulu yang belum ditemukan ya? Karena koleksinya merata di berbagai daerah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, sampai Kalimantan.

Akhirnya petualangan di museum nasional berakhir. Saatnya beranjak ke tujuan kedua, Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta). Untuk mencapainya gampang, tinggal naik busway dan turun di halte Stasiun Kota.

Biaya masuknya juga masih termasuk dalam kategori murah, cukup keluar duit Rp 2000 saja. Ouww, tapi museum ini kok kayaknya gak terlalu menarik buat gw ya. Selain karena banyak banget orang yang datang, yang membuat suasananya bukan seperti di museum yang tenang dan sepi, tapi udah kayak pasar! Serius, gak nyaman banget menikmati benda-benda bersejarah dengan suasana ribut seperti itu. Faktor lainnya adalah karena benda-benda yang dipamerkan di sini kurang menarik. Katanya sih museum sejarah Jakarta tapi yang ditampilin malah kebanyakan furnitur-furnitur peninggalan Belanda kayak tempat tidur kayu, kursi, lemari, cermin, yang menurut gw biasa-biasa aja. Malah sampai ada becak, gerobak tukang bakso, sama warung di dalam museum! Oh man, di mana nilai sejarah yang bisa diambil dari gerobak tukang bakso sama warung?

Furnitur

Kursi Kayu

Kursi Kayu

Crowded

Crowded

Mungkin gw tadi ada di museum itu cuma 30 menit aja kali. Seterusnya gw keluar dan menikmati pemandangan Kota Tua Jakarta yang memang satu kompleks dengan museum fatahillah ini. Bangunan-bangunan yang ada di Kota Tua ini memang cukup menarik, tapi entah memang untuk mempertahankan citra gedung tuanya bahkan ada gedung yang sama sekali tidak terawat lagi. Dinding gedung sudah jamuran dan keropos dan catnya juga udah terkelupas, takutnya malah gedung ini nantinya roboh.

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah

Sepeda Ontel

Sepeda Ontel

Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta

Perjalanan kali ini cukup seru lah buat gw. Untuk museum gw lebih merekomendasikan untuk ngunjungin Museum Nasional daripada Museum Sejarah Jakarta. Harga karcis masuk lebih murah, tapi pengalaman yang didapetin beda. Next time mungkin gw akan coba mengunjungi museum-museum yang lain, seperti Museum Bank Mandiri atau Museum Bank Indonesia misalnya. See ya on the next journey!

Album foto yang lebih lengkap dapat dilihat di sini:

http://www.facebook.com/album.php?aid=18475&id=1374788827&l=ed320

Advertisements

[Review Buku]: The Naked Traveler

February 16, 2009 at 3:24 pm | Posted in book | 2 Comments
Tags: , , ,

Belum kapok juga, tahun 2001 saya ikutan tur di Puerto Rico. Kami semua naik bis dan berkeliling tempat wisata di sana, mulai dari melihat benteng bersejarah, berenang di pantai Luquillo, sampai ke trekking di Caribbean National Forrest. Di tengah jalan, tiba-tiba bis berhenti di belakang halaman rumah orang. Saya bingung, tidak melihat ada objek wisata apa-apa yang menarik. Lalu si Tour Guide mengatakan, “Now Ladies and Gentleman, this is… banana tree!” sambil menunjuk sebuah pohon pisang! Hah? Tololnya, semua orang turun dari bis dan berebutan memotret. Si Guide sampai terheran-heran karena saya tidak turun dan bertanya mengapa saya tidak mau foto-foto. Dengan malasnya saya menjawab, “Not interested. I have many of them, in my own backyard!”

-Dari bab Eksotisnya Pohon Pisang-

The Naked Traveler

The Naked Traveler

Satu lagi blog yang dijadikan buku, selain seri Kambing Jantan cs milik Raditya Dika.  Buku ini bercerita tentang pengalaman-pengalaman unik yang ditemui seorang backpacker – bernama Trinity – ketika sedang menikmati liburannya. Perbedaan kebudayaan dan kebiasaan di suatu negara yang diceritakan oleh penulis bisa ternyata bisa menjadi sesuatu yang lucu yang dapat membuat kita tersenyum ketika membacanya.

Seperti blog pada umumnya yang mempunyai karakter penulisan yang mengalir apa-adanya dan tanpa dibuat-buat, buku ini juga jujur dalam bercerita. Semua yang ditulis di dalam buku ini merupakan pengalaman-pengalaman nyata dari sudut pandang si penulis. Tak heran kalau saya sudah menghabiskan membaca buku ini hanya dalam tempo waktu kurang lebih 3 jam saja. Karena cerita yang mengalir dengan ringan membuat kita tidak perlu terlalu berkonsentrasi menikmati setiap bab-babnya.

Cukup banyak yang dibahas di dalam buku ini. Mulai dari airport negara-negara yang pernah dikunjungi penulis, sistem transportasi yang digunakan, tips-tips yang mungkin berguna untuk diketahui oleh seorang backpacker, tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, bahkan sampai ayam pun dibahas oleh penulis. Penasaran ayam seperti apakah yang dimaksud? Tentu bukan ayam biasa…. 🙂

Pada akhirnya, buku ini cukup bisa menjadi inspirasi bagi yang sudah menjadi backpacker atau yang baru ingin menjadi backpacker (seperti saya). Cukup kagum dengan pengalaman penulis yang sudah pernah mengunjungi hampir semua provinsi di Indonesia dan 33 negara di dunia. Tapi menurut saya buku ini bukanlah buku seorang backpacker murni 🙂 . Karena terkadang di suatu cerita, penulis bisa juga royal terhadap pengeluarannya ketika berlibur.

The Naked Nekad Traveler
Penulis : Trinity
Penerbit : C Publishing
ISBN : 978-979-24-3932-8
Jumlah Halaman : 282

Satu Hari Bersama 2005C(3)

June 3, 2008 at 11:18 am | Posted in Curhat | 11 Comments
Tags: , , , ,

Setelah hampir 2 jam berjalan kaki, kami sampai ke perkampungan tempat kami turun dari angkot. Angkot yang mengantar kamipun sudah menunggu di sana. Kami pun naik angkot dan menuju tempat berikutnya, yaitu Toba Corner Restaurant di Balige. Kami memang sudah merencanakan juga untuk makan bersama di restoran itu sehabis pulang dari air terjun Sampuran. Perlu dicatat bahwa kami masih menggunakan baju yang kami gunakan untuk berpetualang ketika di dalam angkot, baju yang sudah basah dan kotor 😉 . Setelah sampai di areal restoran yang letaknya digabung dengan SPBU Balige itu, kami langsung ke toilet yang disediakan SPBU untuk membersihkan kaki dan muka kami dan mengganti pakaian kami. Setelah itu kami langsung ke restoran yang ada di lantai 2. Waktu yang diperlukan untuk memesan makanan cukup lama karena banyak menu yang diberi nama cukup unik, sehingga kami sibuk membolak-balik daftar menu yang diberikan sekedar untuk melihat apa menu yang cocok untuk kami. Yang perlu diingat adalah, yang membiayai/membayar biaya makan kami ini adalah Pak Marojahan sendiri, sehingga aku merasa tidak enak kalau memilih menu makanan dan minuman yang mahal. Makanya aku hanya memesan menu standar saja, seperti nasi goreng nanas+ayam goreng+telur dadar (yang diberi nama Nasi Goreng Balige) dan CocaCola sebagai minumannya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesananku datang, karena sudah lapar aku langsung makan. Setelah semua selesai makan, diberikan pengumuman bahwa acara bakar-bakar ikan di rumah Junita seperti yang direncanakan sebelumnya ditiadakan karena waktu yang tidak memungkinkan lagi (saat itu sudah pukul 18.30). Peraturan kampus kami menyatakan bahwa batas waktu untuk masuk area kampus pada hari Sabtu adalah pukul 21.00, sehingga diperkirakan waktunya tidak cukup apabila bakar-bakar ikan di luar area kampus. Oleh karena itu, kami merencanakan melakukan bakar-bakar ikan di Open Theatre di dalam kampus, dan semua setuju. Setelah itu kami semua pulang, dan sampai di kampus 30 menit kemudian.

Setelah mandi dan membereskan perlengkapan, kami berkumpul di Open Theatre pukul 20.00. Setelah perlengkapan yang kami butuhkan untuk membakar ikan sudah lengkap, kami mulai membakar ikan di tengah bundaran Open Theatre dialasi dengan seng supaya tidak mengotori lantai semen Open Theatre. Aku dan 2 orang temanku yang wanita menjadi tukang kipas 😉 . Untuk mengisi kekosongan, teman-teman yang lain ada yang bernyanyi, bermain gitar, bersenda gurau, dll yang bisa membuat tertawa. Gak terasa, kira-kira 30 ekor ikan telah selesai kami bakar. Tiba saatnya untuk makan-makan. Tapi sebelum itu kami semua berkumpul membentuk lingkaran, dan seperti biasa kalau ada perkumpulan suatu kelompok, entah itu perkumpulan satu kelas, satu angkatan, atau satu keluarga pasti ada acara sharing atau dalam adat batak disebut Mandok Hata (mudah-mudahan betul cara nulisnya 😉 ). Setelah semua teman memberikan pendapat dan mencurahkan isi hatinya masing-masing, sebagai penutup adalah wali kami sendiri yang memberikan nasihat-nasihatnya kepada kami. Pak Ojak bercerita cukup banyak tentang apa yang dialaminya hari ini, dan tentu saja dia merasa sangat senang dengan kegiatan satu hari ini, dan secara jujur dia mengungkapkan dia sampai bokek karena dia yang memberikan pengeluaran yang paling banyak, he..he.. . Tapi dia juga bilang kalo mengeluarkan uang yang berlebih untuk suatu hal yang dapat membuat dia senang jangan dijadikan suatu beban/masalah/apalah namanya itu. Itulah salah satu prinsipnya, dan dia juga berpesan kepada kami untuk memegang prinsip itu apabila kami sudah mempunyai penghasilan sendiri. Mudah-mudahan ya sir…. 😉
Lanjut dongg…….

Satu Hari Bersama 2005C (2)

June 3, 2008 at 11:14 am | Posted in Curhat | Leave a comment
Tags: , , , ,

Besoknya, sepertinya susah kalo orang Indonesia gak terlambat 😉 . Waktu berkumpul di kantin jadi molor, aku sempatin sarapan bubur kacang ijo + nasi + ikan asin (beginilah makanan anak asrama 🙂 ) karena tahu bahwa perjalanan bakalan bikin capek. Dan setelah semua anggota berkumpul & semua perlengkapan sudah lengkap, kami sama-sama berangkat ke luar kampus. Setelah di luar, kami nunggu sebentar karena 2 angkot yang kami carter belum datang. Ternyata anggota berkurang satu karena seorang teman kami entah kenapa gak ikut, jadinya kami tinggal deh dia. Akhirnya kami mulai berangkat pukul 09.00.

Perjalanan kira-kira 45 menit dari kampus berjalan lancar. Kami tiba di perkampungan tempat petualangan sebenarnya bermula. Tanpa menunggu lama kami mulai berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang dikelilingi hutan dan sawah. Sejauh mata memandang yang bisa kita lihat hanya pepohonan dan bukit-bukit berwarna hijau. Semua masih alami. Di sepanjang perjalanan kami bisa mendengar suara monyet yang saling bersahut-sahutan dari dalam hutan. Aku juga gak lupa untuk mendokumentasikan perjalanan ini dengan kamera digital yang dipinjam dari teman. Dan tidak beberapa lama kami berjalan, tujuan kami sudah dapat kami lihat dari jauh. Namun perjalanan masih panjang, masih ada kira-kira 3 kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Perjalanan mulai semakin menantang dan berat karena kami melewati areal persawahan yang penuh lumpur, sehingga kaki tak jarang terperosok ke dalam lumpur yang kotor dan cukup tebal dan mengganggu pergerakan kaki kami. Tapi kami semua masih terus bersemangat berjalan. Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di tempat yang sepertinya memang cocok untuk dijadikan tempat peristirahatan karena letaknya ada di pinggir sungai. Kamipun turun ke sungai untuk sekedar merasakan dinginnya air sungai yang jernih dan membersihkan kaki kami yang sudah kotor penuh lumpur. Tapi entah disengaja atau tidak ada teman kami yang malah jatuh ke air dan menyebabkan bajunya basah, padahal aku tahu perjalanan di depan lebih susah karena kita akan berjalan menyusuri sungai.

Setelah beristirahat sejenak, kami langsung meneruskan perjalanan. Dan seperti yang aku bilang tadi, kami sekarang berjalan menyusuri sungai. Kami harus berhati-hati berdiri dan melompat di antara batu-batu yang ada di sungai karena hanya dari situlah jalan yang bisa kami lewati. Beberapa teman (terutama yang wanita) sering terjatuh, mungkin karena dia yang tidak bisa menyeimbangkan badannya atau karena batu tempat dia berpijak licin. Untung saja air sungai tersebut tidak terlalu dalam walaupun alirannya cukup deras. Tujuan semakin dekat, suara air terjun dapat kami dengar semakin jelas. Akhirnya setelah perjalanan menyusuri sungai yang seru dan menantang kami sudah sampai di bawah tebing dan sudah dapat melihat air terjun yang cukup besar. Air Terjun Sampuran adalah air terjun yang mempunyai 3 tingkat air terjun (walaupun menurut temanku sampai tingkat 7). Kami berencana untuk naik ke tingkat yang ke 2, karena menurutku memang disitulah letak keindahan sebenarnya dari air terjun. Tapi untuk naik ke tingkat ke 2 harus melalui perjuangan berat, karena kita harus memanjat tebing dari batu-batuan yang cukup tinggi, sekitar 10-15 meter. Ini cukup berbahaya, karena apabila kita terpeleset dan terjatuh dapat dipastikan akan luka parah bahkan dapat merenggut jiwa karena di bawah adalah batu-batuan sungai yang besar-besar. Oleh karena itu, yang pertama kali naik ke atas adalah sebagian pria, kemudian mereka menarik barang-barang bawaan seperti tas, sepatu, perlengkapan bakar ikan, dll menggunakan tali yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian yang naik berikutnya adalah teman-teman wanita dengan dibantu oleh teman-teman pria yang sudah ada di atas sebelumnya. Untunglah semua dapat naik ke atas dengan selamat, walaupun ada di antara mereka yang merasa takut, mungkin karena ini baru pertama kali baginya memanjat tebing yang curam. Kemudian yang berikutnya aku, Pak Marojahan dan teman yang lain naik ke atas. Cukup lancar dan tidak ada hambatan berarti bagi kami. Akhirnya kami semua sampai di atas, dan memang betul bahwa di situlah tempat terbaik menikmati air terjun. Pemandangannya sangat indah karena kami bisa berdiri langsung di bawah air terjun yang turun dari tingkat ke 3, apalagi di sekitar kami, kami hanya bisa melihat pohon-pohon dan hutan, tidak ada yang lain selain itu. Sangat terisolasi. Penasaran kan….

Satu Hari Bersama 2005C (1)

June 3, 2008 at 10:58 am | Posted in Curhat | Leave a comment
Tags: , , , ,

Hari Sabtu 24 Mei 2008 adalah hari yang sangat menyenangkan untukku. Soalnya kami anak-anak kelas C angkatan 2005 mengadakan perjalanan (baca: petualangan) ke suatu tempat yang menantang, yaitu air terjun yang diberi nama Sampuran. Aku ceritakan mulai dari beberapa hari sebelumnya,,

Sebenarnya anak-anak kelas C sudah lama menginginkan supaya bisa jalan-jalan bareng ke suatu tempat, soalnya mulai dari tingkat 1 kami belum pernah merasakannya sama sekali. Kadang kami ‘iri’ dengan kelas lain (kelas A dan B) yang sudah beberapa kali jalan-jalan bareng dosen walinya masing-masing. Sampai kami berganti dosen wali pun (dosen wali pertama kami adalah Pak Johannes Sianipar, beliau digantikan oleh Pak Marojahan Sigiro karena meneruskan studi S2 ke ITB), rencana tersebut belum dapat terlaksana. Sampai akhirnya minggu yang lalu tanda-tanda rencana kami akan terwujud terlihat juga.

Hari Selasa-nya -kebetulan hari libur- kami semua anak kelas C berkumpul bersama dosen wali. Sedikit cerita tentang dosen wali kami, dia sebenarnya adalah alumni kampus kami juga, tepatnya angkatan 2001. Setelah dia lulus tahun 2004, dia (dan 3 orang lainnya) mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S1 di ITB yang dibiayai oleh yayasan kampus kami. Setelah dia lulus di ITB tahun 2007, dia kembali ke kampus kami untuk menjadi dosen, dan kebetulan ditunjuk juga untuk menjadi dosen wali kami. Nama lengkapnya Marojahan Mula Timbul Sigiro, dan kabarnya sih dia cukup terkenal ketika di ITB dulu, he..hehh.. sekem!! Karena umur kami tidak terlalu jauh, jadi kami merasa seperti abang-adik di dalam satu kampus, masih kelihatan jiwa mahasiswanya, jadi kami gak perlu segan-segan dengan dia. Katanya sih dia lagi jomblo, nah bagi yang berminat bisa mendaftar, he..hehh…. kayak apaan aja. OK, back to topic! Hari Selasa kami ngumpul dan langsung membicarakan masalah inti. Kapan & mau kemana kita? Ada yang bilang mau ke Sibolga, mau lihat pemandangan laut. Setelah melihat-lihat tanggal, ternyata ke Sibolga tidak memungkinkan. Beberapa alasan menjadi penghalang, pertama waktu, kami tidak punya waktu lagi untuk ke Sibolga. Mahasiswa tingkat 3 saat-saat ini sedang menjalani hari-hari tersibuk di kampus, mulai dari ngerjain Tugas Akhir sampai persiapan Kerja Praktek. Kami hanya punya sisa waktu 3 minggu sebelum UAS dan berangkat Kerja Praktek. Perjalanan ke Sibolga dari kampus kami butuh waktu 5 jam, selain jauh akses jalan kesana juga kurang bagus, itu menurut penuturan salah satu teman kami yang tinggal di Sibolga. Alasan kedua, kami mahasiswa tingkat 3 tidak diperbolehkan pulang atau bermalam di luar kampus selama satu bulan terakhir ini. Hal itu adalah keputusan direktur kampus kami, Ibu Inggriani Liem. Menurut beliau supaya kami lebih banyak waktu untuk mengerjakan Tugas Akhir. Continue Reading Satu Hari Bersama 2005C (1)…

Berpelesir Ke Dufan

August 15, 2007 at 6:01 am | Posted in Curhat | Leave a comment
Tags:

Wah, akhirnya setelah sekian lama ga ke Dufan lagi hari Senin kemarin gw sama temen-temen SMA bareng-bareng pergi ke Dufan. Rencananya agak mendadak juga, soalnya gw baru dikasitau hari Sabtu sama temen gw, mana di situ duit gw lagi habis-habisnya, he..he..
Yawdah, jadi hari Senin gw berangkat dari rumah temen gw, kebetulan ada mobil temen gw yang bisa dipake jadinya ga perlu ngeluarin ongkos lagi ya palingan kita patungan buat beliin bensin. Kemarin kita tuh ada 7 orang termasuk gw, 4 orang cowok dan 3 orang cewek dan mereka semua adalah temen-temen SMA dan semua pernah satu kelas di kelas 2. Waktu SMA dulu kita memang sering ngumpul sih, main-main bareng, seru-seruan deh pokoknya. Makanya sampai sekarang kita tetep berkomunikasi. Oh ya, dulu sih kita pernah juga ke dufan bareng tapi dah lumayan lama, waktu itu tahun 2004. Bertujuh juga waktu itu, tapi 2 orang temen gw hari Senin kemarin ga bisa ikut dan digantiin sama 2 orang temen gw yang lainnya.

Setelah sampai di Dufan, kita langsung membeli tiket dan karena lagi ada promo jadi dapat diskon 30% dari harga tiket biasa, lumayan juga tuh. Walaupun kemarin tuh hari Senin dan liburan sekolah udah selesai dari lama, tapi tetap aja rame banget sama pengunjung. Ya mungkin pengunjungnya rata-rata anak kuliahan gitu kali ye yang masih pada libur, ya kayak kami-kami ini. OK deh, setelah masuk kita langsung aja jalan buat nyari wahana yang pengin dinaikkin, dan yang pertama adalah wahana Niagara-gara, itu tuh yang kita naik kapal di atas air trus kita dibawa sampai ke atas dan dari atas meluncur dengan cepat, jadinya baju kita lumayan basah deh kena cipratan air. Wah, baru masuk udah basah-basahan nih, padahal belum nyobain Arung Jeram yang wajib basah kuyup kalau kita ikutan. Setelah naik Niagara-gara kemudian kita jalan lagi dan ga jauh dari situ kita ngeliat wahana yang baru dibuka beberapa waktu lalu, yaitu Tornado. Ya udah kita langsung ngantri dan antrian dah panjang banget, kami aja ngantri sampai 1 jam-an! Waktu antri gw sempet ngeliat-liat orang-orang yang dah naik, dan kayaknya serem banget tuh, diangkat ke tempat tinggi trus diputer-puter, pakai disiram air dari bawah segala lagi. Akhirnya tiba juga giliran kami untuk naik, dan gw ngambil posisi paling pinggir, maksudnya sih biar ga kena air gitu. Wahana Tornado ini emang bener-bener gila! Baru naik kita dah diangkat lumayan tinggi (20 meter-an) dah gitu jungkir balik lagi alias kepala di bawah dan kaki di atas, belum cukup di situ kita lalu diputer-puter sampai mabok. Kenceng banget lagi diputernya, pokoknya bikin loe pusing dan gw ngerasa sempet blank sesaat bingung bedain mana yang atas dan bawah. Udah gitu seperti yang gw bilang sebelumnya, kita tuh disiram pakai air juga dari bawah, dan airnya deras loh. Temen gw yang duduk agak di tengah pas turun dari wahana itu udah kayak abis mandi aja, semuanya basah mulai dari baju sampai badannya ga ada yang luput. Gw sih ketawa-ketawa aja soalnya gw bisa dibilang ga kena basah sedikitpun. Wah, keren banget nih wahana, gw ngerasanya sih dah kayak pilot pesawat tempur aja pas naikinnya, he..he..

Karena kami sudah terlanjur kena basah, maka kami lanjut lagi ke wahana yang terkenal dengan basah-basahannya, apalagi kalau bukan Arung Jeram, biar sekalian basah semuanya. Dan emang bener, setelah ikut arung jeram kita semua sukses basah, bener-bener basah. Gw yang nekat bawa handycam ke arung jeram hampir aja tuh handycam rusak, soalnya dah kena cipratan air juga, untungnya sih ga banyak. Abis itu kita ke Halilintar alias Jet Coaster yang menurut gw ga terlalu serem lagi karena udah beberapa kali pernah nyobain. Abis itu kita makan bentar di McD, nah setelah makan gw berpisah dari teman-teman gw karena gw pengen nemuin teman gw juga, tapi yang ini teman kampus. Yup, 2 orang teman kampus gw, Dedy Julius dan Lamretta mereka emang dah janjian buat ketemu gw di dufan karena mereka lagi ada di Jakarta libur semester ini. Si Dedy malah sempat nginap di rumah gw juga walaupun cuma semalam. Selama kira-kira 1.5 jam gw nemenin mereka di dufan keliling-keliling naik wahana yang lain. Lumayan seru juga lah walaupun kita cuma 3 orang doang. Karena hari udah sore akhirnya kami pisah karena mereka dah mau pulang juga dan mereka hanya berdua ga ada yang nganterin nanti kalo kemaleman takutnya ga dapat bus transjakarta lagi.
Gw juga sama teman-teman yang lain juga udah mau pulang. Akhirnya sekitar jam 5-an kami pulang, dan setelah 2 jam-an di jalan akhirnya kami sampai deh di rumah temen gw. Seneng juga deh kemarin karena gw bisa ketemu teman-teman dan jalan-jalan bareng lagi sebelum gw balik ke Medan tanggal 18 Agustus nanti, dan terutama buat temen kampus gw, senang banget bisa nemanin mereka jalan2 di Jakarta dan Tangerang walaupun cuma sebentar doang.

Pengalaman Sebagai Tim Pemantau Independen

April 28, 2007 at 7:24 am | Posted in Uncategorized | 2 Comments
Tags: ,

Selama 3 hari, yaitu tanggal 24-26 April 2007 gw ditugaskan bekerja sebagai Tim Pemantau Independen untuk Ujian Nasional tingkat SMP. Banyak banget pengalaman yang gw dapat selama 3 hari itu, apalagi gw ditugaskan buat memantau di daerah yang belum pernah gw jalanin sama sekali. Kemarin tuh gw ditugaskan ke daerah Pakkat, kabupaten Humbang Hasundutan. Nah lo, dimana tu?? Untungnya ada temen gw yang mempunyai famili di sana, jadi selama bertugas gw nginap di tempat dia.

Hari Minggu, 22 April 2007 gw berangkat dengan kondisi badan yang masih lemas karena 2 hari sebelum itu gw terserang sakit demam yang lumayan menyiksa gw. Kami pergi dengan 4 orang temen gw yang lain yang kebetulan ditugaskan di daerah yang sama. Setelah 2 jam perjalanan sampai juga di tempat transit, yaitu di Dolok Sanggul. Abis nunggu sekian lama, akhirnya datang juga mobil yang menuju Pakkat. Lama perjalanan 2 jam, di dalam mobil gw merasa kepala pusing2 + mual soalnya jalan ke sana blom terlalu bagus, dah gitu berbelok-belok pula, jadilah perut gw serasa dikocok2 dan gw tidur aja selama perjalanan itu. Akhirnya nyampe juga di rumah tujuan, ga beberapa lama setelah sampai kita langsung makan abis itu langsung tidur karena capek.

Besoknya, kami jalan2 di sekitar kota Pakkat, kebetulan rumah tempat gw nginap itu bisa dibilang kotanya Pakkat lah dan dekat dengan pasar, dan kebetulan juga setiap hari Senin pasarnya pasti rame. Eits, tapi walau dibilang kota, luasnya ga terlalu besar dan penduduknya ga terlalu banyak. OiA, Pakkat nih kayaknya masih di gunung2 gitu deh, soalnya sekeliling pasti bakalan ketemu sama hutan2 gitu. Terus, kita mesti berpisah dengan satu orang teman gw soalnya sekolah tempat dia memantau jauh banget, jadi dia mesti tinggal di dekat sekolah itu selama UN berlangsung. Kasian lah temen gw itu mesti mantau di desa terpencil. Di pasar itu gw juga bertemu sama kepala sekolah tempat gw mantau, SMPN 4 Pakkat. Beruntunglah gw, soalnya kepala sekolah yang bakal menjemput gw tiap pagi mulai dari hari Selasa sampai Kamis nanti, jadi gw ga usah pusing2 lagi mikirin soal transportasi.

Hari Selasa pun datang. Pagi-pagi gw dah bangun buat mandi dan menyiapkan semuanya. Kira-kira jam 6.30, kepala sekolah datang ke rumah dan gw langsung berangkat setelah sebelumnya sarapan dulu. Dapat pengalaman baru nih, soalnya gw sendiri yang membawa soal UN untuk hari pertama, Bahasa Indonesia. Soalnya, sebelum kepsek datang ke rumah, dia mesti ke kantor pos dulu buat ngambil soal. Begitulah setiap pagi, gw membawa soal ke sekolah sekaligus gw yang menyaksikan sendiri kalau soal tersebut sah, masih disegel, salah satu tugas TPI ya itu, memastikan keabsahan soal UN. Setelah jalan kira2 30 menit, sampai juga di sekolah. Susah juga jalan ke sana, selain karena jalannya rusak2 dah gitu masih di dalam gunung lagi, mana dingin banget waktu jalan kesana.

Untuk ukuran sekolah di desa, SMPN4 Pakkat lumayan bagus kok. Tanahnya luas, dah gitu bersih lingkungan sekolahnya, suasananya sangat mendukung buat belajar (sepi dan nyaman). Tapi untuk fasilitas masih kurang memang, untuk lab aja blom ada. Kira-kira jam 7.45 murid2 SMP dah pada masuk kelas, setelah sebelumnya mereka dibagikan pensil 2B secara gratis oleh sekolah, iya gratis, gw aja kaget waktu tau sekolah yang nyediain pensil itu. Gw kirain karena letak sekolahnya yang jauh dari kota, makanya dikasih sama sekolah, tapi nggak gitu, itu semua karena program pemerintah yaitu BOS. Belakangan kepseknya juga cerita kalo murid2 ga ngeluarin biaya sepeser pun buat sekolah di sana, alias gratis..tis..tis.. Enak banget ya?

Hari pertama kepseknya asyik aja cerita terus sama gw. Entah apapun diceritain sama gw. Gw palingan cuma keliling kelas 2 kali aja, dan ga ada yang penting2 amat, palingan cuma nanya2 antar siswa, dan pengawasnya cuek. Dan siswanya salah mengisi nama di LJUN. Jadilah waktu hari pertama itu gw menemani kepsek ngobrol2 sambil minum2 kopi.

Rabu, 25 April. Ujian Matematika. Seperti biasa, pak kepsek datang ke rumah buat menjemput gw setelah sebelumnya ngambil soal dulu di kantor pos. Sama kayak kemarin, gw diajak2 ngobrol terus sama kepseknya, palagi orang dari dinas pendidikan ada juga di sana. Sepertinya mereka konspirasi nih biar gw ga sibuk2 memantau ke kelas terus. Gw malah diajak keliling sekolah, entah apalah mereka obrolin, gw ga ngerti soalnya makai bahasa batak. Setelah ujian selesai, gw masuk ke ruang guru buat ngeliat pengeleman sampul LJUN sama penyegelannya sebelum dikirim ke kabupaten. Abis itu, gw sama kepsek pergi ke SMPN 1 Pakkat, di situ semua kepsek se-kecamatan Pakkat ngumpul sebelum pergi ke kabupaten Humbang Hasundutan buat ngantar LJUN. Sehabis makan siang bersama, gw pulang.
Siangnya, gw bersama 4 teman gw yang lain pergi ke kebun salak. Kebetulan oppung (nenek) temen gw ini punya kebun salak. Sampai di kebun, langsung aja gw ambilin salak2 yang ada di sana, ditemenin juga sama anaknya oppung temen gw itu. Susah juga ngambil buah salak langsung dari pohonnya, soalnya durinya masih banyak banget, gw pun ga terlalu tahu mana salak yang udah masak sama yang belum. Setelah bekeliling kebun cukup lama (soalnya kebunnya lumayan luas), kita pulang. Total yang kita dapat sampai 2 karung, kira2 40kg. Banyak banget kan?? Serulah pengalaman siang itu, pengalaman pertama kali ngambil salak dari pohonnya. Oh ya, gw lupa bilang kalo kota Pakkat memang terkenal dengan salaknya, malah di salah satu sudut kota ada tugu yang tulisannya “Pakkat, kota salak”.

Kamis, 26 April. Hari terakhir UN, mata pelajaran Bahasa Inggris. Akhirnya datang juga hari Kamis, hari yang ditunggu-tunggu soalnya dah ga sabaran pingin balik ke kampus. Waktu gw keliling2 kelas buat ngeliat2 situasi, gw ngeliat sendiri waktu itu pengawas di depan kelas, lagi ngebacain jawaban buat murid-murid di kelas itu. Ya gw sih cuma cengar-cengir sambil keheranan dalam hati gw, pengawasnya ga nyadar soalnya gw ngeliat dari jendela. Untuk masuk ke kelas gw agak segan, takut bikin muridnya ga konsentrasi ngerjain ujian. Orang pas gw mantau dari jendela/pintu, murid2 langsung pada ngeliatin gw terus, mereka ga ngerjain soal2nya, dan dengan pandangan agak2 keheranan. Gw jadi pangling juga, mendingan gw pergi aja deh daripada diliatin kayak gitu. Gwnya juga si yang pakaiannya rapi, makai almamater kampus soalnya, makanya keliatan beda dari yang lain.
Akhirnya selesai juga ujiannya. Setelah nyaksikan pengeleman dan penyegelan sampul LJUN, gw langsung cabut pulang diantar sama kepsek. Sebenerya diajakin sama kepseknya makan siang dulu di SMPN 1, tapi gw nolak, soalnya udah janji sama temen2 yang lain abis ujian langsung pulang biar cepet2 balik ke kampus.

Ya sudah, abis makan siang kita langsung berangkat. Ga lupa bawa salak yang udah di kardusin. Gw dapat satu kardus + 1 plastik besar dari kepsek, pokoknya banyak lah. Abis sampai di Dolok Sanggul, kita singgah dulu di SMPN 2 karena kita harus melaporkan hasil pantauan kita di sana, sekaligus menerima honor bekerja sebagai TPI. Lumayanlah honornya buat nambah uang saku. Di situ juga dah ada dosen gw yang bertugas di sana. Setelah semuanya beres, kita akhirnya balik ke kampus diantar sama mobil dari kampus. Sampai juga deh di kampus tercinta.

Wuuuuuiiiihhhh, selesai juga gw nulis nih. Panjang sekali yawww..??!!
Pokoknya pengalaman selama 5 hari itu ga bakalan gw lupain, banyak banget yang gw dapat dari sana.

Continue Reading Pengalaman Sebagai Tim Pemantau Independen…

Ke Tarutung (1)

February 24, 2007 at 5:47 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Akhirnya tulisan ini gw post juga. setelah sekian lama tertunda, soalnya beberapa minggu ini udah banyak banget kegiatan, padahal semester genap baru aja dimulai. ok, gw pengen cerita tentang liburan gw kemarin yang jalan2 ke Tarutung.
Tanggalnya 7-8 Februari yang lalu. Hari Rabu-Kamis. Sebenernya gw ada rencana buat pergi ke Tarutung udah lama, dari tahun 2006 kemarin, kebetulan ada teman kampus gw (cewe) yang tinggal di sana, tapi baru bisa ke sana ya pas kemarin itu. Kenapa gw pingin ke Tarutung? Ya selain karena gw blom pernah ke sana, di sana juga ada tempat wisata. Namanya Salib Kasih. Oh iya, sebenernya udah pernah sih gw ke Tarutung, tapi cuma selama 1jam aja. Waktu itu pas gw lagi perjalanan pulang dari Siantar ke Tangerang. Kebetulan gw naik bus, dan jalur yang dilewatin melalui Tarutung. Sempat singgah sebentar di sana, soalnya waktu itu udah jam 7 malam dan bus berhenti untuk istirahat (makan, minum, mandi). Belakangan gw tahu, tempat bus singgah kemarin dekat dengan rumah teman gw itu.
OK, back to topic. Ceritanya tanggal 7 Februari gw ke kampus gw buat daftar ulang semester baru. Setelah daftar ulang selesai, kita langsung berangkat. Total ada 6 orang yang ikut, ke-6nya yaitu: Gw, Leo, Rimhot, Dolly, Ferdinan, sama Esther. Dari kampus sampai ke Tarutung kira2 memakan waktu sekitar 1 1/2 jam. Setelah kami sampai ke Tarutung, kami langsung ke rumah Esther. He…sebenernya kami ga mau menginap di rumah dia, soalnya ga enak aja diliatnya, kami ber-5 cowok nginap di rumah cewek. Gimana nanti tanggapan ortunya ya?? Tapi kata si Esther ni, “Tenang aja, bapakku asik2 aja kok. Kalian menginap aja di rumah kami”. Ya sudahlah, akhirnya kami memang menginap di rumah dia.

Umm,,,terus ga lama setelah kami sampai di Tarutung, kita berlima jalan2 ke pusat kota Tarutung. Ada tujuannya juga sih. Kita tu mau nyari tempat penginapan yang murah, biar kita ga nginap di rumah si Esther itu. Setelah keliling2, kita dapat tempat penginapan. Setelah kita tanya, si pemilik bilang kalo untuk kamar yang 2 orang harganya 20ribu/malam, kalo untuk kamar yang 3 orang harganya 30ribu/malam. Wew!Murah banget ya? Tapi setelah kami diajak buat ngeliat kamarnya, harapan kita buat nginap di sana jadi turun. Sori2 aja nih, soalnya tempat itu lebih cocok dibilang tempat mesum/prostitusi daripada tempat bermalam. Ancur banget!! Udah kotor, gelap, ga terawat,dll. Ga selera banget lah buat nginap di sana. Ya udahlah, akhirnya kami ga jadi nginap di sana. Pengen nyari tempat yang lain tapi kami ga tau dimana lagi, soalnya di antara kami berlima ga ada yang tau persis daerah Tarutung. Kami nyoba ke rumah teman kampus gw yg lain yang tinggal di Tarutung juga, tapi dianya ga ada di rumah. Akhirnya kita balik lagi ke rumah si Esther. Pas perjalanan pulang gw ngeliat tempat pencucian motor/mobil, namanya The Beatels!!!Wow, biarpun salah tulis, tapi ada juga yang kenal The Beatles di daerah ini(yee, kayak udah di daerah terpencil aja). Lagian Kota Tarutung menurut gw kota besar kok, penduduknya juga ramai. Dan juga, katanya kalo Propinsi Tapanuli jadi dibentuk, maka Tarutung akan dijadikan ibukotanya…

Sampai di rumah Esther, kami pengen mandi karena memang udah malam sih. Tapi si Esther nawarin kami buat mandi air panas di daerah dekat rumahnya, nama daerahnya Hutabarat. Gw langsung setuju dong. Ya udah dengan ditemani adik laki-lakinya kami menuju ke tempat pemandian air panas. Setelah jalan kaki kira 15 menit dari rumah, kami sampai di sana. Sama adiknya temen gw itu, kita ditanyain, mau di tempat yang airnya panas/sedang? Kita milih yang sedang aja, biar cepat berendamnya. Gw jadi inget pengalaman gw mandi air panas di Pangururan waktu gw sama temen gw jalan2 di samosir dulu. Enak banget lah mandi air panas ini, badan gw jadi seger dari yang sebelumnya pegel2 karena kecapekan. Setelah selesai mandi, kami duduk2 sebentar sambil minum teh manis, baru setelah itu kami pulang.

Setelah sampai di rumah, kami langsung ditawarin untuk makan malam. He..he.. udah kayak raja aja kita dirumahnya, apa-apa dilayani, ini juga salah satu alasan kami kenapa kami merasa ga enak untuk nginap di rumahnya, soalnya kita jadi merepotkan temen gw ini. Yang masakin makanan juga temen gw yang cewe itu. Pinter masak juga dia, soalnya enak lah kita ngerasain masakannya.
Ga lama setelah makan malam, kita masuk ke kamar yang udah disiapkan, soalnya udah malam. Mungkin si Esther udah pengen tidur.
Tapi beda dengan yang gw lakuin sama temen2 cowo yang lain. Kita malah main kartu. Dah gitu sampai pagi pula. Waktu itu kita baru selesai main kartu dan tidur jam 1/2 3 pagi!

Continue Reading Ke Tarutung (1)…

Ke Tarutung (2-habis)

February 24, 2007 at 5:35 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Paginya, kita bangun jam 8. Masih ngantuk sih, tapi kita ga boleh bangun terlalu siang soalnya rencana hari ini yaitu jalan2 ke Salib Kasih. Udaranya juga dingin banget. Pas gw ngeliat ke luar rumah, ya ampun, kabutnya masih tebal banget, padahal udah jam 8. Maklumlah, soalnya Tarutung dikelilingi sama pegunungan, dan letaknya di lembah.
Abis mandi, setelah itu makan pagi, kita ber-6 langsung berangkat ke Salib Kasih kira2 jam 10. Naik angkot dari rumah ke sana kira2 10 menit. Tapi itu baru sampai di gerbangnya. Soalnya Salibnya sendiri letaknya di atas bukit, dan lumayan jauh. Kami mutusin buat jalan kaki aja sampai ke atas, biar lebih terasa perjalananya. Soalnya kalo pengen cepat sampai, ada angkot juga yang ngantar sampai ke sana.
Dengan semangat tinggi, kami jalan kaki dari gerbang sampai ke atas. Capek banget, mana jalannya mendaki banget lagi, udah gitu cuaca waktu itu lagi cerah2nya, dan lagi panas2nya juga. Mau ga mau, kita beberapa kali berhenti untuk istirahat sebentar, dan juga manfaatin untuk dokumentasi(foto-foto). Untung pas udah agak ke atas, banyak pohon2nya, jadinya bisa menghalangi sinar matahari dan banyak angin sepoi-sepoi. Kasihan si Esther, kayaknya dia kecapean, padahal sebelum dia ngajakin aku ke sini, dia bilang dia udah biasa jalan kaki dari bawah ke atas.
Setelah kira2 berjalan 1 jam, sampai juga di area Salib Kasih. Tapi itu masih area-nya, belum sampai ke Salibnya yang ada di atas bukit. Jadi untuk sampai ke Salibnya itu, kita mesti jalan kaki lagi ke atas. Ampun dah…!!
Di area ini banyak toko-toko yang menjual souvenir, kayak kaos, topi, syal,dll. Tapi gw ga beli apa-apa di sana.

Abis kita bayar tiket masuk (sukarela), kita menemukan patung besar DR I.L. Nommensen berdiri tegak. Langsung aja gw foto di depan patung itu. Abis itu, kita jalan melalui jalan setapak untuk sampai ke salib yang ada di atas. Waktu gw berjalan di jalan setapak itu, perasaan gw tenang banget, soalnya di samping kiri kanan banyak banget pohon pinus yang tinggi-tinggi. Udah gitu ga ada suara-suara yang bising gitu. Pokoknya sunyi deh, tentram dan nyaman, dalam hati gw bergumam, “Gila, indah banget sih ciptaan Tuhan ini, gw bersyukur bisa merasakannya”. Sambil berjalan menyusuri jalan setapak, di beberapa pohon ditempelkanpapan yang bertuliskan ayat-ayat yang diambil dari Alkitab, dan ada juga pohon yang khusus menempelkan 10 Perintah Allah. Dan banyak perkumpulan gereja yang pernah datang ke Tarutung kemudian meletakkan kenang-kenangannya di sepanjang jalan setapak itu. Perkumpulan gereja tersebut datang dari berbagai daerah, ada yang dari Jakarta, Riau, Palembang,dll.
Akhirnya kita sampai di puncak tempat salibnya berada setelah berjalan kira2 10 menit. Di puncak bukit ini, ada mimbar sekaligus tempat duduknya gitu. Kata temen gw si, biasanya memang setiap hari minggu diadakan kebaktian di Salib Kasih ini. Pemandangan dari atas ini bagus banget, kita bisa melihat semuanya dari sini. Kelihatan deh kota Tarutung yang dikelilingi pegunungan dan letaknya yang di lembah itu, lagi-lagi gw merasa betapa yang diciptakan Tuhan itu indah. Di sini nih juga disediakan beberapa rumah doa, jadi kalo loe-loe datang ke sini, ga lengkap lah kalo ga berdoa di rumah doa itu. Beberapa dari rumah doa merupakan sumbangan dari sukarelawan/donatur. Gw pun masuk ke rumah doa itu untuk berdoa, lumayan lama karena banyak yang gw katakan kepada Tuhan. Hanya Dialah yang tahu apa dan siapa yang kudoakan di sana =). Setelah foto-foto di sana sini, di dekat mimbar ada batu yang dijadikan prasasti. Katanya itu adalah tempat Nommensen berdoa ketika dia menginjil di Tanah Batak. Gw ga bisa membayangkan betapa bersemangatnya dia untuk naik ke puncak ini jaman dahulu hanya untuk berdoa. Orang dengan fasilitas jalan yang udah bagus kayak sekarang aja gw merasa capek, gimana dulu ya?Ketika masih hutan-hutan gitu?? Esther bilang kayak gini ke gw, “Mungkin dulu Nommensen melihat Tarutung dari atas sini, berkata Ya Tuhan, betapa cantiknya Tarutung dilihat dari atas, tapi lebih cantik lagi jika aku bisa menginjil di sana”, what a nice words.
Di sana juga berdiri Salib besar, tingginya kira-kira 20 meter, dan di bagian yang vertikal ada tulisan KASIH, nah mungkin dari situlah nama Salib Kasih berasal. Salib ini juga bisa dilihat dari kota Tarutungnya lho, apalagi kalo malam, soalnya di sisi-sisi salib tersebut dikasih lampu neon, biar kalo malam kelihatan.

Setelah kira-kira 2 jam di atas, akhirnya kita pulang ke rumah. Soalnya jam udah menunjukkan jam 2 siang, dan kita blom makan siang. Kita turun ke bawah juga jalan kaki lho, jalan deh 1 jam lagi ke bawah. Tapi ga begitu terasa seperti naik ke atas tadi soalnya selama perjalanan turun ke bawah, kami main tendang-tendangan botol air mineral, sedangkan Esther jalan berdua sama pacarnya di belakang. Sampai di rumah mampir dulu di warung buat beli bahan untuk makan siang, kami cuma beli indomie dan telur aja. Terus di rumah Esther yang masak mienya itu.
Selesai makan, gw bersiap-siap untuk pulang ke Siantar, yup, hari itu juga gw langsung balik ke Siantar. Sebenernya Esther nawarin kami untuk nginap lagi di rumahnya malam itu. Tapi, heh,, kalo 1 malam OKlah, soalnya kami menghargai dia juga, tapi kalo udah lebih dari 1 malam, wah gawat itu, kami menjadi seperti parasit di rumahnya, lagian memang ga enak kan cowo nginap di rumah cewek. Kalo gw waktu itu dapat penginapan bagus, pasti gw akan menginap lebih dari 1 malam, soalnya gw pengen keliling2 Tarutung sekalian menghabiskan sisa liburan waktu itu. Tapi lain kali deh, gw pasti ke sana lagi.
Ya udah, setelah semuanya selesai dipersiapkan kami bergegas pulang. Tapi bapaknya Esther udah nelpon ke Pool MRT buat menjemput kami di rumah Esther. Heee…bahkan untuk pulang aja kami masih merepotkan…,,Ga beberapa lama mobilnya datang dan kami pamit pulang ke Bapaknya Esther dan ke Esther juga, bilang makasih banyak sama dia atas semuanya yang udah bikin dia jadi repot.
Kalo gw, Rimhot, sama Ferdinan ke Siantar, 2 temen gw yang lain, Leo ama Dolly mereka turun di kampus gw untuk tinggal di asrama. Setelah perjalanan kira-kira 3 1/2 jam, gw sampai di Siantar. Karena udah jam 1/2 9 malam, gw nelpon ke Tulang gw buat ngejemput gw di Siantar. Setelah nyampe di rumah Oppung, gw langsung mandi dan makan, terus ke rumah Tante gw buat tidur. Badan gw capek banget abis jalan seharian itu, makanya gw tidur lelap banget, tapi keesokan harinya gw ngerasa badan pada pegel-pegel semua, terutama pinggang sama punggung.

Demikianlah cerita panjang perjalanan gw ke Tarutung waktu liburan UAS kemarin, kurang puas soalnya cuma 1 malam disana. Kapan-kapan gw harus ke sana lagi dan nginap lebih dari 1 malam, biar puas menjalani kota Tarutung. Selama gw tinggal di Sumatera Utara, baru sedikit daerah yang gw jelajahi. Palingan kayak Siantar, Medan, Tebing Tinggi, Balige, Porsea, Parapat, Tomok, Tuktuk, dan kemarin ke Tarutung(Eh, ternyata udah banyak juga yah..=)). Tujuan gw berikutnya adalah kota Sibolga, terus Brastagi, abis itu Sidikalang, apalagi yah??Kayaknya banyaklah sebelum gw lulus dari kampus gw.

Continue Reading Ke Tarutung (2-habis)…

Ke Tarutung…

February 9, 2007 at 3:58 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Hari Rabu dan Kamis kemarin gw sama 5 orang temen kampus gw yang lain jalan2 ke Tarutung, kota yang terkenal dengan wisata rohani Salib Kasih-nya. Waktu itu gw menginap di rumah temen gw (cewe, baik bgt ni tmn gw ini), dan baru ke Salib Kasih-nya waktu hari Kamis.

Wew, cape bener!! Gw harus berjalan kaki mendaki gunung(karena memang letaknya di atas gunung) selama 1 jam. Itu berarti kira2 gw berjalan sejauh 3 kilometer, jika dihitung kecepatan rata2 manusia berjalan 3 Km/jam. Mana turunnya juga jalan kaki, komplit deh capeknya. Tapi bagus bgt kok pemandangan dari sana.

Ya udah, untuk "cerita panjang"-nya nanti gw post lagi yah. Soalnya masih banyak yang pengen diceritain nih. Dan ga bakalan lupa foto2 selama di sana.

Stay tune terus di Mai Blogs? A Place for My Thoughts.
Alah…!! =)

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.