Indonesia: Pesimistis vs Optimistis

June 8, 2008 at 1:34 pm | Posted in Uncategorized | 8 Comments
Tags: ,

Aku lagi bimbang nih dengan bangsa dan negara tercinta, INDONESIA . Ada suatu masa aku optimistis dengan masa depan negara ini, tapi beberapa hari kemudian rasa itu berubah 180 derajat! Aku pesimistis negara ini dapat maju dan sejajar dengan negara lain yang sudah lebih dulu maju.

Aku merasa optimis ketika membaca berita tentang prestasi yang dicapai oleh anak-anak Indonesia di tingkat dunia. Misalnya olimpiade sains (fisika, matematika, komputer). Aku bangga karena negara lain tidak dapat mengalahkan kita dan masih memperhitungkan Indonesia di tingkat dunia. Setidaknya dunia mengetahui bahwa Indonesia masih mempunyai anak-anak cerdas yang dapat dibanggakan. Aku juga merasa optimis apabila mengalami dan merasakan kerukunan sesama manusia warga Indonesia, tanpa melihat perbedaan agama, suku, atau ras. Melihat tulisan-tulisan sejarah masa lalu bangsa ini, bagaimana pemimpin-pemimpin bangsa ini dapat membuat negara ini meraih kemerdekaannya, visi dan misi mereka akan bangsa ini pada masa itu dapat membuatku kagum dan berandai-andai bagaimana jika aku hidup pada masa itu. Tetapi kenapa sekarang hampir tidak ada pemimpin seperti itu lagi? Aku optimis ketika kita bisa memecahkan masalah bersama-sama dalam satu kelompok, walaupun masalah tersebut adalah masalah kecil dan kelompoknya pun kelompok kecil. Aku optimis karena, sebelum kita dapat memecahkan masalah besar, kita harus dapat memecahkan masalah-masalah kecil terlebih dahulu, ya kan?

Ketika melihat siaran peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei yang lalu, aku juga optimis ternyata Indonesia masih belum habis. Indonesia, walaupun punya banyak perbedaan, ternyata itu bisa menjadi kekuatan bangsa ini. Indonesia kaya akan budaya, itulah kekuatan negara ini, yang mungkin tidak dimiliki oleh negara lain. Ternyata apabila hal itu dilihat sebagai suatu kesatuan, akan terasa indah dibandingkan jika kita melihat secara parsial, sebagian-sebagian. Dari semua hal di atas, media memerankan bagian yang sangat penting untuk membentuk rasa optimis di dalam diriku. Baik itu media cetak maupun elektronik. Internet pun berperan besar, soalnya aku sering melihat tulisan-tulisan di blog orang-orang yang ternyata rasa optimisnya akan negara ini masih cukup tinggi. Tulisan mereka tentu dapat mempengaruhi kita untuk semakin optimis akan masa depan negara ini.

Continue Reading Indonesia: Pesimistis vs Optimistis…

Laptop Wajib Bagi Mahasiswa Baru

June 8, 2008 at 1:23 pm | Posted in Curhat | 3 Comments
Tags: , , , ,

Hmm…. ada pengumuman baru dari kampus nih…

Mulai ajaran tahun depan (2008/2009), mahasiswa baru PI Del diwajibkan memakai laptop. Beritanya dapat dilihat di web SPMB PI Del. Yang ‘menarik’ dari berita tersebut adalah, mahasiswa wajib membeli laptop sesuai rekomendasi kampus, tidak boleh membeli sendiri. Mari kita bahas satu persatu. Mulai dari kewajiban membeli laptop, aku tidak tahu apakah ini malah akan memberatkan bagi sebagian mahasiswa baru atau mahasiswa baru malah semakin diuntungkan dengan kewajiban ini. Aku rasa preferensi tiap-tiap orang berbeda. Jika aku adalah salah satu orang yang termasuk dalam mahasiswa baru tahun ajaran 2008/2009, aku malah merasa beruntung dengan kewajiban ini. Dulu ketika tahun 2005, aku sedikit ‘mengancam’ orangtuaku untuk membelikanku laptop apabila aku diterima di kampus ini, he-he-he tapi kenyataannya hal itu baru kesampaian setahun setelah aku masuk ke PI Del. Kemudian bagaimana dengan mahasiswa yang keadaan ekonominya sedikit lebih susah. Baiklah, kita sekarang sudah membicarakan keadaan ekonomi, maka kita akan membicarakan harga laptop yang kita bahas kali ini.

Lewat berita tersebut, harga laptopnya dapat kita sebutkan seharga Rp 6.900.000 . Yang perinciannya adalah sebagai berikut: Rp 500.000 sebagai uang muka yang dibayarkan pada saat pendaftaran ulang dan sisanya diangsurkan setiap bulan sebesar Rp 200.000 selama 32 bulan, terhitung mulai bulan Januari 2009. Perlu disampaikan bahwa fasilitas kredit kepemilikan laptop tersebut tanpa bunga. Dengan uang sebesar itu, aku belum tahu spesifikasi laptop seperti apa yang akan kita dapatkan, karena selain tidak disebutkan oleh pihak kampus, aku tidak mempunyai daftar spesifikasi yang dapat dijadikan acuan (dari bhinneka.com misalnya). Tapi kalau boleh berandai-andai dan menebak-nebak, saya pikir dengan harga sebesar itu kita sudah bisa mendapatkan spesifikasi laptop standar yang dapat digunakan untuk kegiatan perkuliahan sehari-hari. Apalagi jika hanya digunakan sebatas memprogram dan mengkompilasi, ngurus database kecil, membuat server sederhana, dll yang merupakan kegiatan yang sering dilakukan di kampus ini 🙂 . Tapi yang jadi masalah, kan ga semua orang hanya melakukan kegiatan yang membutuhkan resorce laptop yang tidak terlalu besar. Ada juga kan yang merasa, kalau spesifikasinya hanya yang biasa-biasa saja sepertinya kurang afdol, maunya spesifikasi yang paling top saat ini. Misalnya ‘mereka’ mau RAM minimal 2GB, dedicated VGA Card (bukan onboard), Blu-Ray Optical Disk Drive, Hardisk 200 GB. Mereka ini biasanya golongan yang tidak terlalu mempermasalahkan biaya. Walaupun golongan ini bukanlah golongan mayoritas, persentasenya sangat kecil. Atau ada golongan yang fanatik terhadap suatu merek laptop. Mungkin dia atau anggota keluarganya sudah pernah menggunakan laptop sebelumnya, dan merasa puas dengan merek laptop yang digunakan. Nah, misalnya laptop yang wajib dimiliki mahasiswa nanti memiliki merek yang berbeda dengan yang pernah digunakan sebelumnya, pasti akan merasa under-estimate atau kurang selera memakai laptop tersebut. Soalnya aku sudah melihat kasus nyatanya juga di kampus. Ada teman yang harus memilih merek ‘X’ketika membeli laptop. Mungkin dia terpengaruh oleh iklan, atau ada teman atau kerabat yang merekomendasikannya. Padahal menurutku sih, laptop merek apapun bagus ASAL kualitas customer servicenya sudah terjamin. Yang jelas biaya yang harus dibayarkan setiap bulan semakin bertambah, di luar biaya asrama dan makan yang rata-ratanya sekitar Rp 500.000. Hmmmm……
Lanjutkan Membaca

Heboh Kartu Setan Axis

May 8, 2008 at 1:47 pm | Posted in Uncategorized | 22 Comments
Tags: , , ,

Walah..walah….

Ternyata heboh kartu axis nyampe juga di kampus lewat forum online Ada beberapa macam versinya, yang pertama seperti di bawah ini (dan kayaknya yang paling populer) :

“Kalo ada telpon yang NOMOR BERWARNA MERAH jgn diangkat, karna bisa
MENELAN JIWA,
hari ini sdh disiarkan di berita, terjadi di jakarta dan duri dan SUDAH
TERBUKTI, skrg masih diusut oleh pihak
KEPOLISIAN, dugaan sementara adlh kasus PEMBUNUHAN JARAK JAUH MELALUI
TELPON GENGGAM (HP )
oleh DUKUN ILMU HITAM / si penelepon adlh : ROH GENTAYANGAN yang
mencari MANGSA, harap
dimengerti dan kirim ke teman ato sodara semua, harap saling membantu
sesama umat MANUSIA”.

“Angkanya 8066 dan 666 dan jika ada sms ato telp….jangan diangkat ato
dibuka”

Udah jelas banget kalo itu hoax! Dari kalimat pertama “Kalo ada telpon yang nomor berwarna merah”, iya kalo layar hape kita berwarna, nah kalo yang masih make layar monokrom gimana? Aman dong mereka ya, atau saking canggihnya ilmu hitam itu sampai2 bisa merubah warna nomor telepon. Gila, setan aja udah ngenal teknologi!!!! Ha..hah..ha…. Bodoh!!!

Seorang teman memberikan postingan di sini yang isinya mengenai sanggahan dari hoax di atas. Untuk referensinya dapat dilihat melalui link-link berikut:

http://www.themercury.co.za/?fSectionId=301&fArticleId=nw20080426142426468C648675
http://legendsrumors.blogspot.com/2008/04/fatal-phone-number.html
http://www.angkor.com/2bangkok/2bangkok/forum/showthread.php?t=3242
http://ki-media.blogspot.com/2008/04/red-phone-number-is-not-cause-of-death.html

Terus, ini yang kedua : Continue Reading Heboh Kartu Setan Axis…

Apa pekerjaan yang paling kamu inginkan?

April 14, 2008 at 2:49 pm | Posted in Curhat | 11 Comments
Tags: , , , ,

Supaya postingan aku sebelumnya mengenai pekerjaan yang paling tidak kamu inginkan berimbang, maka di sini aku menulis tentang apa-apa saja pekerjaan yang paling kamu inginkan.

Setiap orang pasti punya pengertian yang berbeda-beda tentang pekerjaan impian. Tapi kalo dari aku, pekerjaan impian itu adalah pekerjaan yang kita tahu bahwa kita mempunyai skill untuk melakukan pekerjaan itu, sehingga kita merasa ‘comfort’ dan punya ‘passion’ di dalamnya. Atau belum mempunyai skill juga gak apa-apa, asal ada kemauan kuat aja buat melakukan suatu pekerjaan. Aku sih lebih baik untuk digaji ‘underpaid’ tetapi kita sangat menikmati pekerjaan itu, daripada digaji ‘overpaid’ tapi kita merasa amat tersiksa untuk melakukan pekerjaan itu. Ujung-ujungnya pasti kita berhenti juga dari pekerjaan itu, cepat atau lambat.

So, ini dia pekerjaan yang aku inginkan setelah aku lulus nanti:

1. IT Professional
Kalau yang ini sudah sesuai dengan bidang yang aku jalani saat ini. Aku kuliah di Politeknik Informatika, ya otomatis lulusannya diharapkan jadi seseorang yang bergelut di dunia informatika dong. Tapi IT professional kan banyak tuh, nah aku sih lebih condong untuk menjadi Network administrator/engineer di suatu perusahaan/instansi, soalnya di tingkat tiga ini aku ngambil jurusan Teknologi Jaringan Komputer. Aku sih merasa seru aja kalo bermain-main dengan jaringan, server, linux, router, dll. Soalnya banyak yang bisa diutak-atik di sana, dan membutuhkan eksplorasi untuk mencoba hal-hal baru, sesuatu yang aku suka he..he..
Aku tau juga sih kalo fresh graduate itu jarang yang langsung ditunjuk jadi admin jaringan, ya biasanya sih untuk tahun-tahun pertama jadi Technical Support/Helpdesk. Tapi beda kalau kamu punya sertifikasi yang dikhususkan untuk jaringan komputer, contohnya seperti CCNA. Makanya aku pengen banget dapat sertifikasi CCNA secepatnya begitu lulus dari kampusku, mudah-mudahan terkabul. Kan di tingkat 3 ini kami belajar Internetworking tuh, yaitu routing pakai Cisco dan dosen juga banyak memberikan source mengenai contoh soal yang biasa dipakai waktu ujian buat mendapatkan CCNA atau materi-materi yang asalnya dari Cisco langsung. Maklum, beliau sudah pernah mendapatkan sertifikasi CCNA sebelumnya. Jadi, aku gak perlu repot-repot ikut kelas belajar CCNA-nya, langsung ngambil ujiannya aja, supaya lebih hemat dikit gitu pengeluarannya 🙂 . Terus, apa mentok cuma jadi network administrator aja? Gak lah, pokoknya kalo ada hubungannya dengan IT aku juga senang (mis: programmer). IT is my life……

2. Enterpreneur
Enterpreneur itu apa ya? Enterpreneur itu seorang pengusaha, atau bisa juga disebut wiraswastawan. Tapi untuk lebih spesifiknya bisa disebut sebagai technopreneur, yaitu pengusaha yang bermain di bidang teknologi, khususnya IT.
Yap, menjadi seorang pengusaha juga merupakan planning aku untuk masa depan. Masak sih kita mau jadi karyawan terus-terusan, kapan majunya? he..he.. . Tapi selama beberapa tahun menjadi karyawan suatu perusahaan itu penting juga. Selain untuk mengumpulkan modal buat buka usaha, bisa juga untuk menambah pengalaman di dunia bisnis dimana tempat kita bekerja. Kan kalo jadi karyawan, kita bisa melihat tuh, apa sih yang diinginkan oleh klien, atau apa yang jadi tren di pasar saat ini (wuiihh, udah kayak ahli ekonomi aja bahasaku he..he..). Tapi, untuk membuka suatu usaha memang harus ada basic ilmu ekonominya dulu nih, mungkin nanti perlu ngelanjut lagi belajar di universitas 🙂 . Aku terinspirasi jadi technopreneur tuh dari beberapa orang, seperti Pak Budi Rahardjo dengan Digital Beat Store-nya, atau Pak Adinoto dengan usaha jualan baterai laptopnya, dan alumi dari kampusku yang buat usaha solusi IT yaitu MedanIT. Kebetulan hari minggu kemarin, bapak menelepon dari rumah dan dia sedang membicarakan rencana untuk membuka suatu usaha (bisnis) di sana (Tangerang). Kakak, adik, dan sepupu juga diikutsertakan dalam perbincangan santai itu. Walaupun judulnya cuma perbincangan santai, tapi itu merupakan ide menarik buat aku. Mungkin karena bapak sebentar lagi akan pensiun, makanya ada rencana seperti itu. Kemudian, dengan teknologi yang semakin canggih saat ini, untuk melakukan transaksi bisnis antar kota bahkan antar negara sudah semakin mudah dan tidak membutuhkan biaya yang sangat besar karena semua bisa dilakukan melalui internet. Tuhh, kebukti kan enaknya jadi technopreneur…. 🙂

3 Blogger
Haaaa…., apa ga salah nih?! Masak nge-blog dijadikan pekerjaan? Pekerjaan idaman pula itu. Gak, itu gak salah kok. Di luar negeri kayaknya udah banyak kulihat orang bekerja sebagai full-time/professional blogger. Kalo orang Indonesia aku baru tahu satu aja, yaitu Pak Budi Putra. Dan jangan anggap remeh pekerjaan blogger ini, karena walaupun bayarannya gak tetap tapi bisa jauh melebihi gaji seorang pekerja tetap di perusahaan. Aku pernah dengar bahwa pendapatan seorang blogger bisa mencapai ribuan dollar per bulan! Darimana mereka bisa mendapatkan bayaran sebanyak itu? Ternyata dari iklan yang terpampang di situs blog mereka. Makin banyak yang mengklik iklan di blog itu dan melakukan transaksi, maka makin bertambahlah pendapatan si blogger. Makanya, mesti belajar SEO juga nih biar traffic ke blog kita tinggi, sebagai referensi bisa belajar ke Cosa Aranda, master SEO Indonesia (katanya :)). Terus, untuk membuat blog yang berkualitas bisa belajar ke Budi Putra, yang blognya secara khusus membahas tentang tutorial, tip & trik, dan informasi yang berhubungan dengan blog. Aku menulis di blog ini pun bisa dibilang belajar juga, walaupun masih newbie he..he… . Oh iya, kayaknya kalau mau jadi blogger yang sukses dengan pendapatan ribuan dollar seperti yang aku bilang di atas, menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam postingan sepertinya menjadi kewajiban, karena layanan Google AdSense lebih prefer kepada situs yang menggunakan bahasa Inggris sebagai partnernya. Banyak tuh keuntungan jadi blogger, contohnya blogger gak punya jam kerja tetap, jadi gak ada istilah telat masuk kantor karena macet dlsb. Trus, gak mesti ke kantor. Asal ada koneksi internet, blogger udah bisa kerja. Mau belum mandi kek, atau gak pakai baju pun udah bisa kerja. Nah, kalo di kantor emangnya bisa yang kayak ginian? he..he..

That’s all. Tiga pekerjaan yang paling aku inginkan sepertinya sudah cukup untukku. Kalo dilihat lagi, ada satu kesamaan di antara ketiga pekerjaan tersebut. Walaupun pekerjaannya berbeda, tapi semua masih ada hubungannya dengan IT. Memanglah, kayaknya gak bisa lepas lagi dari IT nih, hi..hi…

Bagaimana dengan kamu? Apa pekerjaan yang paling kamu inginkan?

Apa pekerjaan yang paling tidak kamu inginkan?

March 26, 2008 at 10:05 am | Posted in Uncategorized | 9 Comments
Tags:

Hmmm, kesannya seperti memilih-milih pekerjaan yah? Tapi bukankah lebih baik kita memilh pekerjaan yang kita suka dan enjoy dalam melakukannya? Tentu merasa tersiksa sekali yah kalo bekerja di bidang yang tidak kita sukai.

Aku sendiri sudah membuat list tentang 4 pekerjaan yang sangat tidak aku suka, dan aku akan berusaha mati-matian supaya tidak memilih pekerjaan itu.. (hahahhh, terlalu didramatisir banget). Perlu diketahui bahwa list disusun tidak berdasarkan peringkat, jadi pekerjaan yang kutulis di nomor satu sama hina buruknya dengan pekerjaan di list no 4 🙂 .

1. PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Kenapa ya, kok pekerjaan untuk menjadi PNS seolah-olah merupakan pekerjaan terhormat dan bergengsi di masyarakat kita? Apa karena PNS digaji oleh negara? Walaupun hanya ongkang-ongkang kaki pun bisa dapat gaji. Terus, test masuk PNS kayaknya udah dimanipulasi juga, yang punya duit dan relasi dengan “orang dalam” aja yang kemungkinan besar diterima. Terus banyak banget tabiat buruk yang dilakukan oleh PNS yang sering kita lihat di berita-berita di televisi. Contohnya, apabila ada cuti bersama yang cukup panjang, libur lebaran misalnya, pasti di hari pertama masuk kerja masih ada aja pegawai yang bolos, memperpanjang jatah liburnya sendiri, walaupun menteri PAN sendiri udah ngasih peringatan apabila ada pegawai di instansi pemerintah yang mangkir kerja akan dikenakan sanksi, tetap aja dianggap sebagai angin lalu 😦 .
Aku pun sebenarnya gak tau, job description seorang PNS itu apa ya? Bukan yang menjadi guru, tapi PNS yang bekerja di instansi-instansi pemerintah seperti gambar di atas. Apalagi PNS itu ada golongan-golongannya udah macam golongan darah aja 🙂 . Sayang sekali ya, padahal setahuku pengeluaran terbesar APBN adalah untuk gaji PNS yang tersebar di Indonesia. Aku tahu juga sih, kalau PNS di golongan rendah itu gajinya gak seberapa, malahan mungkin sangat kurang untuk menghidupi dirinya, apalagi yang udah berkeluarga. Kenapa itu ya? Apakah sudah habis digerogoti sama pegawai yang ada di golongan atasnya kali ya? Jadi solusinya gimana dong? Ahh, jadi bingung pun aku….. 🙂
2. Politikus
Apa itu politikus? Poli = banyak, Tikus? Ya tikus lah :). Jadi politikus itu banyak tikus? He..he…
Aku udah capek dan mungkin udah biasa mendengar di televisi atau di surat kabar banyak pejabat dan anggota dewan di sana yang sepertinya tidak melakukan pekerjaannya dengan benar. Mereka yang seharusnya memperhatikan rakyat malah mencuekkinnya, gak mau tau, tutup kuping, mata, mulut, dan mungkin hidung juga kali 🙂 . Seolah-olah mereka lupa kalau yang menjadikan mereka bisa duduk di sana tuh ya rakyat juga…..
Mereka sering berdebat, tapi yang diperdebatkan tuh kadang banyak yang gak jelas. Debat kusir istilahnya. Bukannya mencari solusi atas suatu persoalan, mereka malah mencari-cari masalah baru, ya jadinya gak selesai-selesai deh. Mereka sering ke luar negeri dengan alasan studi banding, tapi apa yang mereka bawa? Selain tas-tas pakaian/aksesoris dari merek-merek terkenal? Gaji mereka amat berlebih, belum termasuk fasilitas istimewa yang mereka dapatkan, tapi mereka selalu meminta lagi kenaikan gaji. Katanya sih untuk meningkatkan produktivitas. Produktivitas apanya? Sering kan kita liat di tv/koran ketika ada sidang banyak kursi-kursi kosong dan bahkan ada yang menyempatkan diri untuk tidur atau sekedar baca-baca koran. Hmmmmfff, cape deh ngomonginnya 🙂 . Eh iya, yang termasuk politikus itu siapa-siapa aja ya? Menurutku sih orang yang menjadi anggota suatu partai tertentu dapat dikatakan seorang politikus juga. Selain anggota DPR, DPRD, Gubernur, Bupati, Camat, sampai Lurah juga masuk kayaknya.
3. Member Suatu MLM
Kalo yang ini sih karena, aku lucu aja ngeliatnya 😀 . Kita diiming-imingi bisa mendapatkan pendapatan yang banyak hanya dengan bermodalkan sedikit uang. Gak perlu banyak usaha, nanti bisa dapat rumah/mobil/apalah yang biasa disebut bonus. Ternyata dibalik itu semua ada syaratnya, kita mesti menjaring orang lain supaya mau menggunakan produk yang kita tawarkan dan kemudian mengajak orang itu untuk menjadi anggota MLM yang kita ikuti juga (apa sih istilahnya? downstream? downladder? ah, lupa aku…) . Nah, semakin banyak orang yang kita jaring, dan apabila orang yang kita jaring itu menjaring orang lain lagi, begitu seterusnya, maka kita akan mendapatkan suatu promosi dan bonus berdasarkan jumlah orang yang kita jaring. Jadi kalo ada temen/relasi yang memberi informasi adanya suatu bisnis yang menjanjikan dengan kata-kata manis, patut diwaspadai, jangan-jangan ujung-ujungnya bisnis MLM juga….. :D. Soalnya sering aku baca di milis, seseorang diundang temannya untuk mengikuti sebuah seminar tentang bisnis & motivasi di salah satu hotel terkemuka, yang di menit-menit pertama seminar sih belum tercium aroma MLM nya, ehh..tapi pada akhirnya mereka diminta untuk memasarkan sebuah produk yang sudah jelas dari sebuah bisnis MLM. Males banget dehh….
4. Pemain Shitnetron Sinetron
Yah, kalo dipikir-pikir, wajahku cukup OK lah untuk bisa menjadi artis….(anjrittt!!! narsis banget gw…. :D). Dan aku juga punya teman yang terobsesi untuk menjadi sutradara film sehingga nantinya dia bisa mengorbitkan aku (satelit kali mengorbit…) di dunia entertainment wk..wak…wak…
Tapi walaupun misalnya kejadian aku ditawarin main sinetron, kayaknya sih bakalan aku tolak. Abisnya sinetron udah kayak sampah di televisi aja. Cerita yang gak mutu; menjual mimpi, jiplakan dari film asing, jalan cerita gak masuk akal & mudah ditebak & itu-itu aja dari dulu sampai sekarang 🙂 , akting pas-pasan, super maksa, dll yang buat aku ingin muntah….. Apalagi ngeliat sinetron di salah satu televisi swasta yang mana pemerannya itu-itu aja, suara pake di-dubbing segala, dan setting yang maksudnya ingin kembali ke jaman dulu tapi hasilnya malah gak masuk akal…..
Tapi melihat wajah-wajah artis di televisi lumayan bikin seger juga, cantik-cantik euy. Eits, tapi bisa menipu juga, soalnya kan artis sinetron pakai make-up tebel-tebel banget… ha..ha..
Aku sih mau-mau aja masuk tipi, misalkan menjadi narasumber untuk topik tertentu, apalagi yang berhubungan dengan IT, supaya kita bisa membagi pengetahuan kita ke orang lain gitu lohhh….

OK-lah, itu yang bisa kuceritakan kepada kalian. Dan yang perlu dicamkan adalah: untuk poin no.1 dan no.2, aku bukannya ingin mencap kepada seluruh orang yang ada di profesi itu. Aku yakin masih banyak PNS dan politikus yang berhati nurani, bersih dari korupsi, dan tanggung jawab akan pekerjaannya. Tapi ya itulah, karena ulah sebagian “oknum” di sana, kedua profesi tersebut menjadi “tercemar” menurut pandanganku. Aku mohon maaf apabila ada yang merasa tersinggung dengan postinganku ini. Aku hanya ingin menyuarakan pendapatku saja kok, boleh kan? 🙂

cheers.

KP & Alasan Untuk Tidak Kerja Di Jakarta

March 14, 2008 at 8:36 pm | Posted in Uncategorized | 6 Comments
Tags:

OK, aku udah mutusin daerah untuk KP nanti beberapa waktu yang lalu. Untuk pilihan pertama aku milih Jakarta, dan untuk pilihan kedua adalah Batam. Sebenarnya sih, ketika pertama kali form kuisioner untuk KP dibagikan, aku bersemangat sekali untuk memilih Batam sebagai pilihan pertama, tapi setelah kutelepon orangtuaku aku putuskan untuk menukar prioritas pilihan tersebut. Hmm, kenapa ya aku bersemangat sekali untuk merasakan kerja di Batam? Sebenarnya tidak hanya di Batam saja, aku suka juga untuk merasakan kerja di daerah baru selain di Jakarta. Mungkin karena setelah kuliah di Del kali yah yang letaknya di daerah antah berantah 😀 aku jadi gak takut lagi untuk pergi ke daerah yang sama sekali asing bagiku? Kembali ke Batam, karena aku pikir Batam adalah daerah industri yang sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat, apalagi letaknya yang dekat dengan Singapura. Wow, siapa tau aja nanti aku bisa nyangkut ke Singapura kalau kerja di Batam, he..he.. 🙂

Lanjut to the next point. Malahan aku udah bikin list alasan-alasan kenapa aku (mungkin kamu juga) tidak berminat untuk kerja di Jakarta. Ini berdasarkan hasil pengamatanku aja loh, setelah cukup sering ke Jakarta ketika sebelum kuliah di Del ini….

  1. Panas : Yang ini jelas banget. Cuaca di sana ketika siang hari cukup untuk membuat kamu mandi keringat di bawah sinar matahari. Apalagi ketika naik sepeda motor di siang bolong dan terjebak macet (soalnya aku sering juga kayak gitu), waduhh gak tahan! Makanya mungkin ini penyebab mengapa kulitku hitam, ha..ha… 😀 . Tentu gak nyaman kan kalo kita sering-sering berkeringat? Walaupun memang sih hampir semua kantor di Jakarta dilengkapi dengan AC di ruang kerjanya…
  2. Biaya hidup tinggi : Yup! Kayanya semua yang ada di sana harus ditebus dengan uang. Pokoknya sedikit-sedikit ngeluarin uang deh. Ke toilet umum aja mesti bayar 1000 perak 😕 . Belum lagi untuk makan yang kira-kira mengeluarkan Rp 7000 untuk sekali makan dan dengan lauk pauk seadanya. Mau lebih enak, mesti ke fast food di mall yang tentu lebih mahal walaupun gak bikin kenyang-kenyang amat sih. Hitung sendirilah untuk biaya lain-lainmu, gaji 2jt pun akan terasa kecil. 😦
  3. Macet : Jakarta tanpa macet kayaknya bukan Jakarta deh namanya. Bayangkan sendirilah ketika jutaan mobil dan motor berlomba-lomba untuk masuk ke Jakarta setiap pagi dan sorenya. Mungkin hanya tengah malam & ketika musim mudik lebaran saja jalanan di sekitar Jakarta terlihat lengang. Moda transportasi alternatif yang ditawarkan seperti busway dan -way -way yang lainnya kurang berhasil. Bus Transjakarta sering terlambat datang di halte dan jalurnya pun sering dipakai kendaraan umum, padahal kan dilarang. Pernah katanya mau dibikin monorail, tapi sudah beberapa tahun baru tiang-tiang penyangganya aja yang selesai, dan sampai akhirnya proyek ini terlantar. Jakarta mau bikin subway (kereta bawah tanah)? Orang setiap tahunnya aja terendam air, kok kayaknya nekat yah ide bikin subway-nya? [-(
  4. Banjir : Wah, kalo yang ini udah jadi tradisi setiap tahun untuk kota Jakarta. Ngeri deh kalo Jakarta udah diguyur hujan lebat, walaupun cuma sebentar pasti akan ada genangan air di jalan-jalan. Malahan kalo hujannya berturut-turut lebih dari 2 hari, bakalan ada danau baru di Jakarta, dan letak “danau” ini pun gak tanggung-tanggung yaitu di jalan tol! Dan jalan tolnya pun bukan jalan tol biasa, tapi jalan tol menuju bandara. Ck..ck..ck lengkap sudahlah. Yang tinggalnya di pinggiran sungai pun lebih parah lagi, dapat dipastikan mereka harus mengungsi kalau udah terjadi banjir kayak gini. Bahkan air sudah mulai menggenangi perumahan mewah di Jakarta loh. Mana nih? Katanya Jakarta sudah ada di tangan ahlinya?
  5. Polusi : Mau gak mau kamu harus menghirup asap kendaraan bermotor kalau hidup di Jakarta. Asap yang berwarna hitam pekat dan penuh dengan polusi yang efeknya aku rasa lebih parah dari merokok dua bungkus sehari. Kendaraan yang paling berperan menyumbangkan polusi di Jakarta menurutku adalah kendaraan yang pernah populer di televisi, apalagi kalau bukan Bajaj. Bukan cuma polusi udara, polusi suara pun turut disumbangkannya. Dan tentu saja jutaan kendaraan bermotor yang ada di jalanan Jakarta setiap harinya seperti yang telah kutulis di atas berperan “penting” juga dalam hal ini.
  6. Kriminal : Hmm, walaupun aku belum pernah mengalami kejadian yang berhubungan langsung dengan kriminal di Jakarta, tapi dengan melihat berita-berita yang ditulis di koran atau disiarkan di televisi tingkat krimininalitas di Jakarta cukup mengerikan. Pelaku kejahatan tanpa ragu-ragu menggunakan kekerasan untuk melancarkan aksinya, tapi kalo korban masih melawan, pelaku kejahatan tanpa pikir panjang akan menghabisi nyawa kamu, owww,, serem banget!!! :(( . Soalnya perampok sekarang udah banyak yang bawa senjata (tajam/api) ketika melakukan aksinya. Dan jangan salah, perampok sekarang udah pada pinter-pinter. Mereka banyak menggunakan modus yang kadang bikin geleng-geleng kepala [-( . Contohnya, sengaja mecahin telor ke kaca mobil, naro paku di jalan, hipnotis, pura-pura jual jam tangan, kasih obat ke dalam minuman, dan masih banyak yang lainnya.
  7. Norak dan Kampungan : Ha..ha.. seriuslah? Iya, aku serius ! (bah, udah kayak akting di sinetron2 aja :d ). Tapi memang bener kok, masih banyak penduduk Jakarta yang norak dan kampungannya minta ampun. Contohnya adalah orang yang merasa amat bangga tinggal di Jakarta, pamer-pamer ke orang bahwa dia orang Jakarta padahal hidupnya pun pas-pasan dan mungkin aja dia cuma numpang (bukan asli lahir dan hidup di Jakarta). Terus ada juga yang sok ngikutin lifestyle orang bule sana, mulai dari gaya baju, rambut, cara ngomong biar dianggap dia itu gaul / berasal dari keluarga yang berada padahal sih hidupnya biasa-biasa aja. Aku ngeliatnya kok munafik dan dibuat-buat gitu ya? Kalau kalian pernah lihat kartun Beny & Mice di KOMPAS, seperti itulah kehidupan norak dan kampungan yang dapat ditemui di Jakarta. Atau acara Snapshot di MetroTV yang menampilkan penduduk Jakarta yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang kalo kita lihat sih konyol dan memalukan. Aku mengakui juga sih kalo aku kadang melakukan hal yang aku anggap norak dan kampungan tadi.

Yah, seperti itulah wajah “buruk” Jakarta menurut pengamatanku, tapi bukan berarti Jakarta selamanya buruk. Memang harus diakui, sebagai ibukota negara Jakarta mempunyai fasilitas yang sangat lengkap, istilahnya apa yang kita inginkan semua ada di Jakarta. Kalau aku hubungkan dengan dunia IT, hampir seluruh acara seperti launching produk IT baru, seminar & workshop IT tingkat tinggi, kantor cabang perusahaan IT dunia semua ada dan diadakan di Jakarta. Tes untuk mendapatkan sertifikasi terhadap teknologi tertentu, misalnya CCNA atau MCSE juga diadakan di Jakarta. Itulah keuntungannya Jakarta, walaupun menurutku sih masih lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya. Selesai. :d

Pengalaman Menggunakan Linux Ubuntu

December 7, 2007 at 12:28 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Menggunakan Linux sebenarnya bukan hal baru bagi saya walaupun saya pertama kali menggunakan Linux sebagai sistem operasi saya yaitu ketika tahun kedua kuliah saya, ketika ada matakuliah administrasi server menggunakan RedHat Linux 9.0. Tapi kalau mendengar kata Linux sudah cukup lama juga, yaitu waktu kelas 1 SMA namun selama di SMA tidak pernah mencoba menginstall di komputer rumah karena masih terpengaruh oleh omongan bahwa linux itu susah dimengerti, bahkan untuk menginstallnya pun rumit dan untuk menjalankan program harus melalui command prompt dengan mengetikkan perintah-perintah secara manual. Saya jadi teringat kepada Alexander Schatten, pada saat itu ia mengadakan seminar di kampus kami mengenai open source dan ia menanyakan kepada para mahasiswa siapa yang sudah pernah menggunakan linux. Hanya beberapa orang saja yang mengacungkan jari. Kemudian ia kembali bertanya, siapakah di antara kami yang pernah menggunakan Google, dan tentu semua mahasiswa mengacungkan jarinya karena setiap pengguna internet pasti kenal dengan mesin pencari ini. Lalu apa hubungannya Google dengan Linux? Kemudian ia menjelaskan bahwa sistem operasi yang terinstall di seluruh server Google menggunakan linux, itu berarti secara tidak langsung kita telah menggunakan linux dalam kehidupan sehari-hari kita. Wah, berarti dari kelas 1 SMA pun saya sudah menggunakan linux dong, karena saya baru mengenal Google saat itu (kira-kira tahun 2002) 🙂

Saya baru mendengar linux ubuntu pada saat tahun pertama saya kuliah, waktu itu ada abang kelas yang memberikan cd ubuntu (5.04 kalo tidak salah) kepada teman saya. Mungkin abang kelas saya itu mendapatkannya dari shipit.ubuntu.com yang memberikan cd gratis kepada yang meminta di web tersebut. Namun saya belum tertarik untuk menginstallnya di PC saya. Ketika liburan semester, saya kembali ke Tangerang dan meminta kepada teman saya CD ubuntu versi 7.04, tapi saya lagi-lagi tidak menginstallnya, hanya mencoba fitur Live CD-nya saja dan melihat-lihat program-program apa saja bawaan dari ubuntu ini. Saya mulai tertarik menginstall ubuntu ketika melihat efek-efek desktop yang dapat dihasilkan oleh ubuntu menggunakan compiz. Dari gambar-gambar yang saya dapatkan di internet, efek-efek desktop tersebut sangat indah dan melebihi aero milik Windows Vista yang sudah pernah saya coba sebelumnya. Contohnya adalah desktop yang berbentuk kubus, perpindahan antar program seperti CoverFlow-nya iTunes, efek desktop terbakar, dll. Kira-kira bulan Oktober saya mencoba menginstallnya di laptop saya menggunakan ubuntu 7.04, padahal waktu itu ubuntu sudah mengeluarkan versi terbarunya, yaitu ubuntu 7.10 tapi karena saya belum memilikinya saya menginstall versi 7.04 saja. Pengalaman pertama kali menginstall di laptop saya tidak mengenakkan, karena beberapa kali gagal dan ketika berhasil proses penginstallan membutuhkan waktu hampir 2 jam. Saya tidak tahu apakah CD-nya yang rusak atau spesifikasi laptop saya yang kurang memadai (sudah intel centrino duo tapi RAM masih 256MB). Setelah bisa diinstall, kekesalan berlanjut lagi. Saya tidak bisa mengakses sebagai root di terminal. Sudah saya ketikkan su root dia meminta password yang saya tidak tahu dan pada akhirnya tidak dapat masuk sebagai root. Kemudian saya tidak bisa membuka administrasi User and Groups karena disitulah kita bisa mengganti password user yang ada di system kita (termasuk user root). Dan alasan utama saya yang ingin menyaksikan desktop effects di ubuntu tidak dapat terpenuhi, karena katanya driver saya termasuk restricted dan tidak dapat untuk menjalankan desktop effects. Saya cukup kesal karena VGA Card laptop saya bukan onboard, menggunakan ATI Radeon Mobility X1300.

Kemudian, di web forum kampus kami (http://mail.del.ac.id/~gandhi/forum/index.php), salah seorang dosen kami membuat topik tentang mirror repositori linux ubuntu yang ada di kampus kami (http://repo.del.ac.id) sehingga untuk menginstall package-package menjadi sangat cepat karena website tersebut termasuk dalam intranet kampus kami. Kemudian saya mencoba menginstall ubuntu versi terbaru, 7.10 di PC saya yang ada di lab komputer. Proses instalasi berjalan dengan lancar dan hanya memakan waktu kurang lebih 1/2 jam saja (prosesor 1.7GHz dan RAM 768MB). Langsung saja saya mencoba menginstall package compiz dari add/remove program setelah sebelumnya mengatur setting repositori supaya tertuju ke repo.del.ac.id. Kemudian setelah diinstall, terdapat pilihan tambahan custom di bagian visual effects dari Appearance. Setelah dipilih, efek-efek yang sebelumnya saya lihat di internet dapat saya rasakan sendiri, seperti desktop cube, bentuk window yang elastis seperti karet, animasi ketika minimize/maximize, transisi antar desktop dan windows, dll. Semua membuat saya terkagum-kagum dengan efek-efek yang dihasilkan tersebut. Efek-efek tersebut dapat di kustomisasi melalui ccsm(compizconfig setting manager). Di ccsm tersebut terdapat ratusan pengaturan terhadap efek-efek yang ada.

Setelah penginstallan di PC yang berjalan lancar, saya mencoba menginstall di Laptop saya untuk merasakan sensasi desktop effects yang sama yang saya temukan di PC lab komputer. Instalasi masih berjalan cukup lama, kurang lebih 1 jam (mungkin memang sudah seharusnya menambah memori laptop :D) namun berjalan lancar. Semua aplikasi berjalan dengan baik dan setting network dan repositori berhasil. Tapi untuk desktop effects tidak dapat di enable, saya tidak tahu penyebabnya. Setelah saya Googling menggunakan keyword pesan yang ditampilkan akhirnya saya dibawa ke forum ubuntu yang mempunyai masalah yang sama dengan saya. Saya harus memodifikasi file konfigurasi dari compiz dan setelah merestart laptop saya akhirnya desktop effectsnya dapat ditampilkan. Saya senang sekali karena efek-efeknya lebih halus dan terlihat lebih cantik. Ada beberapa efek yang di PC lab komputer tidak dapat dijalankan, mungkin karena pengaruh VGA Card-nya juga. Contohnya efek air dan api di desktop, yang di laptop saya berjalan dengan lancar dan kelihatan seperti nyata.

Saat ini di komputer lab saya terinstall 4 sistem operasi, Linux Ubuntu 7.10, Linux Fedora Core 6, Windows XP Professional dan Windows Server 2003. Dengan harddisk hanya 30GB, saya hampir tidak memiliki ruang kosong lagi di harddisk saya, namun untunglah server menyediakan ruang 5GB di jaringan untuk setiap mahasiswa tingkat 3 jadi bisa menyimpan file-file yang tidak begitu penting untuk dipergunakan. Dan Windows XP pun sudah mulai jarang di-boot, dan lebih sering menggunakan Ubuntu untuk mengeksplor dari package-package yang disediakan. Mungkin suatu saat nanti Ubuntu/Linux akan menjadi sistem operasi utama yang saya gunakan, karena kita tidak perlu repot-repot membayar dengan harga yang mahal untuk mendapatkannya, padahal fitur-fitur yang tersedia sudah sangat lengkap setara dengan Windows.

Secara gw gaul gitu loh…

June 9, 2007 at 6:28 am | Posted in Fun | 4 Comments
Tags: ,

Sori, tulisan ini mungkin tulisan paling basbang yang pernah gw tulis. Akhir-akhir ini gw banyak melihat/membaca tentang penggunaan kata baru di entah koran, atau majalah, dan juga dari blog orang lain. Dan kata baru itu adalah kata pertama yang ada di judul postingan ini. Oh ya? Masa sih kata ‘secara’ bisa dibilang kata baru? Kayaknya dah sering dengar deh. Contoh : Metode jajak pendapat terhadap konsumen tentang penggunaan bahan tambahan dalam makanan dilakukan secara acak. Nah.. kalo diliat dari contoh itu, gw pun udah sering dengar dan gw mengerti arti dari kata tersebut, dan loe semua juga pasti dah pada ngerti kan??

Tapi coba liat dari contoh berikut ini : Waktu itu gw di rumah lagi sendirian, secara gw ga tau mau ngapain, gw nonton film yang baru gw beli dari mall tadi sore.
Atau contoh petikan wawancara berikut ini: Secara loe tuh artis terkenal, gimana sih cara loe ngatur waktu loe yang penuh dengan kesibukan syuting?

Dari contoh yang di awal tulisan dibandingkan dengan 2 contoh di atas, kerasa kan kalo artinya beda? Untuk arti kata ‘secara’ yang baru itu, gw belum mendapatkan arti yang resmi, soalnya belum gw liat dari kamus besar bahasa indonesia. Tapi dari tebak-tebakan gw, kata ‘secara’ tuh bisa diartikan sebagai ‘karena’, atau di lain kalimat artinya bisa juga jadi ‘dimana’. Terus gw kok merasa ada yang janggal ya waktu gw mendengar kata ‘secara’ yang baru itu, kayak ada yang aneh dan ga pas di telinga dan di mulut waktu diucapin.

Mungkin nanti ada temen gw yang nyorakin: “Wah, nar! payah loe ga gaul amat, itu kan kata gaul baru tau ga?” setelah gw menulis postingan ini.
Kata gaul? Gw rasa emang bener juga sih, soalnya dari yang gw baca, pasti kata ‘secara’ itu dipakai bersamaan dengan kata gw, loe, atau yang lainnya. Dan yang pake tuh biasanya masih anak-anak muda.
Trus kenapa gw bilang postingan ini basi banget? Soalnya, ternyata penggunaan kata ‘secara’ ini dah dari tahun lalu ‘diperkenalkan’. Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan gw ga tau. Ada yang bilang seorang penyiar salah satu radio jakarta sering banget menggunakan kata ini, terus ada lagi katanya berawal dari film Badai Pasti Berlalu yang di-remake tempo lalu. Memang sih sepertinya kata ini masuk dalam kosakata bahasa indonesia, yang jaman dulu dipakai dalam penggunaan sehari-hari dan sekarang diangkat lagi ke permukaan.

Nah, kalo kata ini dianggap sebagai kata gaul, gw takut ini hanya jadi tren sesaat. Biar pengguna kata tersebut dianggap anak gaul, makanya dia pakai kata itu. Nanti kalo udah ga jadi tren, ya udah, ditinggalin lah dan ga dipake-pake lagi. Ternyata sekarang ga cuma rokok/narkoba aja yang dipakai sebagai alat pergaulan. Bahasa formal juga bisa lohhhhhhh. Manthabbbsss!

P.S: btw, gw belum akan menggunakan kata baru itu dalam penggunaan sehari-hari atau dalam postingan blog gw, secara gw masih mengganggap aneh dan belum pas aja didengernya. (nah lo…??!!). oia, judul gw itu terinspirasi dari rubrik bahasa di majalah tempo dengan judul yang sama.

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.