Indonesia: Pesimistis vs Optimistis

June 8, 2008 at 1:34 pm | Posted in Uncategorized | 8 Comments
Tags: ,

Aku lagi bimbang nih dengan bangsa dan negara tercinta, INDONESIA . Ada suatu masa aku optimistis dengan masa depan negara ini, tapi beberapa hari kemudian rasa itu berubah 180 derajat! Aku pesimistis negara ini dapat maju dan sejajar dengan negara lain yang sudah lebih dulu maju.

Aku merasa optimis ketika membaca berita tentang prestasi yang dicapai oleh anak-anak Indonesia di tingkat dunia. Misalnya olimpiade sains (fisika, matematika, komputer). Aku bangga karena negara lain tidak dapat mengalahkan kita dan masih memperhitungkan Indonesia di tingkat dunia. Setidaknya dunia mengetahui bahwa Indonesia masih mempunyai anak-anak cerdas yang dapat dibanggakan. Aku juga merasa optimis apabila mengalami dan merasakan kerukunan sesama manusia warga Indonesia, tanpa melihat perbedaan agama, suku, atau ras. Melihat tulisan-tulisan sejarah masa lalu bangsa ini, bagaimana pemimpin-pemimpin bangsa ini dapat membuat negara ini meraih kemerdekaannya, visi dan misi mereka akan bangsa ini pada masa itu dapat membuatku kagum dan berandai-andai bagaimana jika aku hidup pada masa itu. Tetapi kenapa sekarang hampir tidak ada pemimpin seperti itu lagi? Aku optimis ketika kita bisa memecahkan masalah bersama-sama dalam satu kelompok, walaupun masalah tersebut adalah masalah kecil dan kelompoknya pun kelompok kecil. Aku optimis karena, sebelum kita dapat memecahkan masalah besar, kita harus dapat memecahkan masalah-masalah kecil terlebih dahulu, ya kan?

Ketika melihat siaran peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei yang lalu, aku juga optimis ternyata Indonesia masih belum habis. Indonesia, walaupun punya banyak perbedaan, ternyata itu bisa menjadi kekuatan bangsa ini. Indonesia kaya akan budaya, itulah kekuatan negara ini, yang mungkin tidak dimiliki oleh negara lain. Ternyata apabila hal itu dilihat sebagai suatu kesatuan, akan terasa indah dibandingkan jika kita melihat secara parsial, sebagian-sebagian. Dari semua hal di atas, media memerankan bagian yang sangat penting untuk membentuk rasa optimis di dalam diriku. Baik itu media cetak maupun elektronik. Internet pun berperan besar, soalnya aku sering melihat tulisan-tulisan di blog orang-orang yang ternyata rasa optimisnya akan negara ini masih cukup tinggi. Tulisan mereka tentu dapat mempengaruhi kita untuk semakin optimis akan masa depan negara ini.


Tapi media juga berperan penting dalam membentuk opini pesimistis. Seperti yang aku katakan pertama kali, rasa optimis yang sudah terbentuk sekejap akan hilang dan berubah menjadi rasa pesimistis apabila melihat berita di televisi atau koran tentang fakta yang terjadi di negara ini. Kekerasan dan anarkisme malah sepertinya sudah menjadi budaya Indonesia dalam memecahkan masalah. Lihat saja tayangan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di televisi mengenai insiden Monas 1 Juni 2008 yang lalu. Kita lihat dengan gampangnya mereka memukul dan melakukan kekerasan terhadap orang lain, padahal mereka satu warga negara yang sama. Bukan berarti aku menyetujui memukul dan melakukan kekerasan terhadap warga negara asing. Apalagi insiden tersebut berdasarkan masalah agama. Hmmm….seperti yang kita ketahui, masalah tentang agama di negeri ini adalah masalah yang sensitif, bahkan sangat sensitif apabila sudah memaksakan kehendak satu sama lain. Kalau sudah seperti ini, tidak akan ada lagi rasa aman dalam kehidupan berwarga negara, soalnya apabila kita mempunyai masalah dengan orang lain, atau mempunyai perbedaan pendapat terhadap sesuatu, bukannya dicari jalan keluar dengan seksama malah beradu fisik untuk membuktikan pendapat siapakah yang benar. Yang menang, dialah yang benar. Kekuatan otot lebih banyak dipakai daripada kekuatan otak.

Tidak sadarkah kita kalau segala sesuatu yang terjadi di negara ini dapat dengan mudahnya dipantau dari negara lain atau dari manapun? Malukah kita apabila negara lain melihat kejadian yang penuh dengan kekerasan dan anarkisme seperti kejadian di atas? Kalau aku malah berpikir, para pemimpin & warga negara lain (yang sudah maju) pasti menertawakan dalam hati ketika mendengar/melihat berita itu. Mereka mungkin heran dan bertanya, “Kok seperti ini ya kelakuan orang Indonesia?”. Atau mereka berpikir bahwa kejadian itu malahan dapat dijadikan strategi politik untuk lebih memecah belah antar sesama warga Indonesia. Aku pun curiga bahwa kejadian kemarin itu pun merupakan konspirasi politik saja, hanya permainan orang-orang yang mempunyai kuasa atas negeri ini. Media mengatakan, bahwa kejadian ini di-blow up untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap masalah kenaikan BBM. Jujur saja, akibat pemberitaan yang sangat intens lewat media, aku jadi bingung manakah fakta yang benar. Untuk itu, kita seharusnya berhati-hati melihat permasalahan yang ada, jangan sampai timbul opini-opini yang malah membuat masalah utama menjadi kabur dan akhirnya tidak dapat diselesaikan.

Korupsi juga jadi salah satu faktor yang membuat aku jadi pesimis! Sampai-sampai anggota dewan yang terhormat juga makan duit yang dia tidak berhak memilikinya!! “Prestasi” negatif juga. Coba, apa perasaannmu mendengar pernyataan bahwa Indonesia masuk ke dalam buku rekor dunia sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia? Sangat memalukan bukan? Sepertinya memang tidak sebanding lah, berita yang dapat mendongkrak rasa optimistis dibandingkan dengan berita yang bisa membuat rasa pesimistis semakin besar. Atau ini hanya pengaruh media saja? Aku berandai sebaiknya media hanya membuat berita tentang kemajuan bangsa dan prestasi positif saja. Tapi itu sama saja menutupi fakta yang terjadi di kenyataan yang bertolak belakang dari yang diberitakan. Juga, itu sama saja kembali ke masa-masa orde baru, di mana pemerintah mempunyai kekuasaan absolut atas media.

Aku gak tahu sampai kapan kebimbangan terhadap negara ini akan selesai. Yang pasti, akan berhenti di satu titik, apakah optimistis atau pesimistis(sangat berharap ini tidak akan terjadi!). Aku pikir tulisan ini pun tidak terlalu berguna, karena ini hanya opini pribadiku saja. Setidaknya, aku masih sempat lah memikirkan hal kecil tentang bangsa ini. Bukannya itu kewajiban kita sebagai warga negara?๐Ÿ˜‰

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. optimis aja cuk…

  2. @Okta
    akupun akan selalu berusaha untuk terus optimis ta!!

  3. lah kenapa pra, koq jadi aneh…
    kita harus tetap optimis agar bs maju, jangan mau menyerah, tp kalo negaranya ga mau maju, mendin kita2 aja yang maju…tul ga?…๐Ÿ™‚

  4. @rafaeltrisno:
    yap, betul juga. memang harus dimulai dari diri sendiri dulu baru bisa ke lingkup yang lebih besar lagi…๐Ÿ™‚

  5. optimis aja lah, kalo rakyatnya ga optimis trus sapa lagi๐Ÿ˜€

  6. @yudi:
    makasih ya!๐Ÿ˜€

  7. berusaha optimis, tp tanpa usaha. Itu aq yang kemaren, sekarang ga mw lagi. nyesel…

  8. salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: