Satu Hari Bersama 2005C (2)

June 3, 2008 at 11:14 am | Posted in Curhat | Leave a comment
Tags: , , , ,

Besoknya, sepertinya susah kalo orang Indonesia gak terlambat😉 . Waktu berkumpul di kantin jadi molor, aku sempatin sarapan bubur kacang ijo + nasi + ikan asin (beginilah makanan anak asrama🙂 ) karena tahu bahwa perjalanan bakalan bikin capek. Dan setelah semua anggota berkumpul & semua perlengkapan sudah lengkap, kami sama-sama berangkat ke luar kampus. Setelah di luar, kami nunggu sebentar karena 2 angkot yang kami carter belum datang. Ternyata anggota berkurang satu karena seorang teman kami entah kenapa gak ikut, jadinya kami tinggal deh dia. Akhirnya kami mulai berangkat pukul 09.00.

Perjalanan kira-kira 45 menit dari kampus berjalan lancar. Kami tiba di perkampungan tempat petualangan sebenarnya bermula. Tanpa menunggu lama kami mulai berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang dikelilingi hutan dan sawah. Sejauh mata memandang yang bisa kita lihat hanya pepohonan dan bukit-bukit berwarna hijau. Semua masih alami. Di sepanjang perjalanan kami bisa mendengar suara monyet yang saling bersahut-sahutan dari dalam hutan. Aku juga gak lupa untuk mendokumentasikan perjalanan ini dengan kamera digital yang dipinjam dari teman. Dan tidak beberapa lama kami berjalan, tujuan kami sudah dapat kami lihat dari jauh. Namun perjalanan masih panjang, masih ada kira-kira 3 kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Perjalanan mulai semakin menantang dan berat karena kami melewati areal persawahan yang penuh lumpur, sehingga kaki tak jarang terperosok ke dalam lumpur yang kotor dan cukup tebal dan mengganggu pergerakan kaki kami. Tapi kami semua masih terus bersemangat berjalan. Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di tempat yang sepertinya memang cocok untuk dijadikan tempat peristirahatan karena letaknya ada di pinggir sungai. Kamipun turun ke sungai untuk sekedar merasakan dinginnya air sungai yang jernih dan membersihkan kaki kami yang sudah kotor penuh lumpur. Tapi entah disengaja atau tidak ada teman kami yang malah jatuh ke air dan menyebabkan bajunya basah, padahal aku tahu perjalanan di depan lebih susah karena kita akan berjalan menyusuri sungai.

Setelah beristirahat sejenak, kami langsung meneruskan perjalanan. Dan seperti yang aku bilang tadi, kami sekarang berjalan menyusuri sungai. Kami harus berhati-hati berdiri dan melompat di antara batu-batu yang ada di sungai karena hanya dari situlah jalan yang bisa kami lewati. Beberapa teman (terutama yang wanita) sering terjatuh, mungkin karena dia yang tidak bisa menyeimbangkan badannya atau karena batu tempat dia berpijak licin. Untung saja air sungai tersebut tidak terlalu dalam walaupun alirannya cukup deras. Tujuan semakin dekat, suara air terjun dapat kami dengar semakin jelas. Akhirnya setelah perjalanan menyusuri sungai yang seru dan menantang kami sudah sampai di bawah tebing dan sudah dapat melihat air terjun yang cukup besar. Air Terjun Sampuran adalah air terjun yang mempunyai 3 tingkat air terjun (walaupun menurut temanku sampai tingkat 7). Kami berencana untuk naik ke tingkat yang ke 2, karena menurutku memang disitulah letak keindahan sebenarnya dari air terjun. Tapi untuk naik ke tingkat ke 2 harus melalui perjuangan berat, karena kita harus memanjat tebing dari batu-batuan yang cukup tinggi, sekitar 10-15 meter. Ini cukup berbahaya, karena apabila kita terpeleset dan terjatuh dapat dipastikan akan luka parah bahkan dapat merenggut jiwa karena di bawah adalah batu-batuan sungai yang besar-besar. Oleh karena itu, yang pertama kali naik ke atas adalah sebagian pria, kemudian mereka menarik barang-barang bawaan seperti tas, sepatu, perlengkapan bakar ikan, dll menggunakan tali yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian yang naik berikutnya adalah teman-teman wanita dengan dibantu oleh teman-teman pria yang sudah ada di atas sebelumnya. Untunglah semua dapat naik ke atas dengan selamat, walaupun ada di antara mereka yang merasa takut, mungkin karena ini baru pertama kali baginya memanjat tebing yang curam. Kemudian yang berikutnya aku, Pak Marojahan dan teman yang lain naik ke atas. Cukup lancar dan tidak ada hambatan berarti bagi kami. Akhirnya kami semua sampai di atas, dan memang betul bahwa di situlah tempat terbaik menikmati air terjun. Pemandangannya sangat indah karena kami bisa berdiri langsung di bawah air terjun yang turun dari tingkat ke 3, apalagi di sekitar kami, kami hanya bisa melihat pohon-pohon dan hutan, tidak ada yang lain selain itu. Sangat terisolasi.

Teman-teman langsung ke air terjun untuk merasakan sendiri tumpahan air terjun yang sangat deras. Aku sendiripun sudah tidak sabar dan langsung menyusul mereka. Walaupun ini kali kedua aku ke tempat ini, aku masih terkagum-kagum seperti waktu pertama kali aku air terjun ini. Airnya sangat bersih dan dingin, khas air pegunungan asli. Aku bahkan sempat mencicipi air yang jatuh dari atas, rasanya segar, lebih segar dari air minum dalam kemasan yang mengatakan bahwa air yang mereka kemas diambil dari mata air pegunungan🙂. Setelah itu kami makan siang dengan makanan yang kami bawa dari kantin. Walaupun makan siang tersebut hanya berlauk telur dadar + ikan asin + sambal, aku merasakan makanan tersebut sangat enak dimakan di tempat itu. Kemudian kami mulai melakukan rencana kami, yaitu membakar ikan yang telah kami bawa sebelumnya. Para wanita menjalankan tugasnya untuk membersihkan ikan. Sedangkan yang pria mulai membuat api dengan arang dan mempersiapkan tempat pembakaran ikan. Tapi sangat disayangkan, sepertinya cuaca kurang mendukung. Langit mulai terlihat menghitam pertanda mendung dan akan turun hujan. Namun kami tetap melanjutkannya. Pertama kami membakar 3 ekor ikan dalam satu panggangan, kelihatannya cukup enak apalagi setelah dilumuri dengan bumbu-bumbu yang telah dipersiapkan sebelum berangkat. Kami berharap supaya hujan tidak turun, tetapi keinginan kami tidak sesuai dengan yang terjadi. Hujan turun, yang dari gerimis kecil sampai menjadi hujan yang cukup deras. Akhirnya kami putuskan untuk membatalkan acara membakar ikan karena keadaan yang memang tidak memungkinkan. Apalagi arang yang kami pakai sudah ikut basah kena air hujan. Padahal 3 ekor ikan tersebut sudah mulai matang di salah satu sisinya.

Sialnya hujan tersebut turun tidak terlalu lama, kira-kira 15 menit kemudian hujan berhenti. Tetapi akhirnya kami memutuskan untuk turun ke bawah dan pulang, karena apabila tetap di atas pun tidak ada yang dapat kami lakukan. Jam di tangan masih menunjukkan pukul 13.20, kami hanya berada di atas sekitar 1 jam saja. Memang sih terasa tidak puas, tapi mau diapakan lagi? Untuk ikan yang tidak kami bakar itu kami berencana untuk membakar ikan di salah satu rumah teman kami yang ada di dekat kampus sore harinya. Kemudian satu persatu dari kami mulai menuruni tebing, dimulai dari wanita terlebih dahulu. Ada yang lain yang kurasakan ketika menuruni tebing, apabila dibandingkan ketika naik sebelumnya, sepertinya terasa lebih susah untuk menuruni tebing. Mungkin karena aku turun sambil melihat ke bawah dan kondisi batu tempat pijakan kaki lebih licin karena hujan yang turun sebelumnya. Jadinya aku lebih berhati-hati di setiap langkah kakiku untuk berpijak ke batu. Untunglah semua berhasil turun dengan baik. Perjalanan pulang tidak jauh berbeda seperti perjalanan awal. Mnyusuri sungai, kemudian beristirahat di tempat yang sama seperti awal perjalanan sambil berfoto-foto. Melewati sawah dan tanah berlumpur, tapi kali ini sepertinya lumpurnya bertambah tebal, baju dan tasku sampai kotor terkena cipratan lumpur.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: