Ke Tarutung (2-habis)

February 24, 2007 at 5:35 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Paginya, kita bangun jam 8. Masih ngantuk sih, tapi kita ga boleh bangun terlalu siang soalnya rencana hari ini yaitu jalan2 ke Salib Kasih. Udaranya juga dingin banget. Pas gw ngeliat ke luar rumah, ya ampun, kabutnya masih tebal banget, padahal udah jam 8. Maklumlah, soalnya Tarutung dikelilingi sama pegunungan, dan letaknya di lembah.
Abis mandi, setelah itu makan pagi, kita ber-6 langsung berangkat ke Salib Kasih kira2 jam 10. Naik angkot dari rumah ke sana kira2 10 menit. Tapi itu baru sampai di gerbangnya. Soalnya Salibnya sendiri letaknya di atas bukit, dan lumayan jauh. Kami mutusin buat jalan kaki aja sampai ke atas, biar lebih terasa perjalananya. Soalnya kalo pengen cepat sampai, ada angkot juga yang ngantar sampai ke sana.
Dengan semangat tinggi, kami jalan kaki dari gerbang sampai ke atas. Capek banget, mana jalannya mendaki banget lagi, udah gitu cuaca waktu itu lagi cerah2nya, dan lagi panas2nya juga. Mau ga mau, kita beberapa kali berhenti untuk istirahat sebentar, dan juga manfaatin untuk dokumentasi(foto-foto). Untung pas udah agak ke atas, banyak pohon2nya, jadinya bisa menghalangi sinar matahari dan banyak angin sepoi-sepoi. Kasihan si Esther, kayaknya dia kecapean, padahal sebelum dia ngajakin aku ke sini, dia bilang dia udah biasa jalan kaki dari bawah ke atas.
Setelah kira2 berjalan 1 jam, sampai juga di area Salib Kasih. Tapi itu masih area-nya, belum sampai ke Salibnya yang ada di atas bukit. Jadi untuk sampai ke Salibnya itu, kita mesti jalan kaki lagi ke atas. Ampun dah…!!
Di area ini banyak toko-toko yang menjual souvenir, kayak kaos, topi, syal,dll. Tapi gw ga beli apa-apa di sana.

Abis kita bayar tiket masuk (sukarela), kita menemukan patung besar DR I.L. Nommensen berdiri tegak. Langsung aja gw foto di depan patung itu. Abis itu, kita jalan melalui jalan setapak untuk sampai ke salib yang ada di atas. Waktu gw berjalan di jalan setapak itu, perasaan gw tenang banget, soalnya di samping kiri kanan banyak banget pohon pinus yang tinggi-tinggi. Udah gitu ga ada suara-suara yang bising gitu. Pokoknya sunyi deh, tentram dan nyaman, dalam hati gw bergumam, “Gila, indah banget sih ciptaan Tuhan ini, gw bersyukur bisa merasakannya”. Sambil berjalan menyusuri jalan setapak, di beberapa pohon ditempelkanpapan yang bertuliskan ayat-ayat yang diambil dari Alkitab, dan ada juga pohon yang khusus menempelkan 10 Perintah Allah. Dan banyak perkumpulan gereja yang pernah datang ke Tarutung kemudian meletakkan kenang-kenangannya di sepanjang jalan setapak itu. Perkumpulan gereja tersebut datang dari berbagai daerah, ada yang dari Jakarta, Riau, Palembang,dll.
Akhirnya kita sampai di puncak tempat salibnya berada setelah berjalan kira2 10 menit. Di puncak bukit ini, ada mimbar sekaligus tempat duduknya gitu. Kata temen gw si, biasanya memang setiap hari minggu diadakan kebaktian di Salib Kasih ini. Pemandangan dari atas ini bagus banget, kita bisa melihat semuanya dari sini. Kelihatan deh kota Tarutung yang dikelilingi pegunungan dan letaknya yang di lembah itu, lagi-lagi gw merasa betapa yang diciptakan Tuhan itu indah. Di sini nih juga disediakan beberapa rumah doa, jadi kalo loe-loe datang ke sini, ga lengkap lah kalo ga berdoa di rumah doa itu. Beberapa dari rumah doa merupakan sumbangan dari sukarelawan/donatur. Gw pun masuk ke rumah doa itu untuk berdoa, lumayan lama karena banyak yang gw katakan kepada Tuhan. Hanya Dialah yang tahu apa dan siapa yang kudoakan di sana =). Setelah foto-foto di sana sini, di dekat mimbar ada batu yang dijadikan prasasti. Katanya itu adalah tempat Nommensen berdoa ketika dia menginjil di Tanah Batak. Gw ga bisa membayangkan betapa bersemangatnya dia untuk naik ke puncak ini jaman dahulu hanya untuk berdoa. Orang dengan fasilitas jalan yang udah bagus kayak sekarang aja gw merasa capek, gimana dulu ya?Ketika masih hutan-hutan gitu?? Esther bilang kayak gini ke gw, “Mungkin dulu Nommensen melihat Tarutung dari atas sini, berkata Ya Tuhan, betapa cantiknya Tarutung dilihat dari atas, tapi lebih cantik lagi jika aku bisa menginjil di sana”, what a nice words.
Di sana juga berdiri Salib besar, tingginya kira-kira 20 meter, dan di bagian yang vertikal ada tulisan KASIH, nah mungkin dari situlah nama Salib Kasih berasal. Salib ini juga bisa dilihat dari kota Tarutungnya lho, apalagi kalo malam, soalnya di sisi-sisi salib tersebut dikasih lampu neon, biar kalo malam kelihatan.

Setelah kira-kira 2 jam di atas, akhirnya kita pulang ke rumah. Soalnya jam udah menunjukkan jam 2 siang, dan kita blom makan siang. Kita turun ke bawah juga jalan kaki lho, jalan deh 1 jam lagi ke bawah. Tapi ga begitu terasa seperti naik ke atas tadi soalnya selama perjalanan turun ke bawah, kami main tendang-tendangan botol air mineral, sedangkan Esther jalan berdua sama pacarnya di belakang. Sampai di rumah mampir dulu di warung buat beli bahan untuk makan siang, kami cuma beli indomie dan telur aja. Terus di rumah Esther yang masak mienya itu.
Selesai makan, gw bersiap-siap untuk pulang ke Siantar, yup, hari itu juga gw langsung balik ke Siantar. Sebenernya Esther nawarin kami untuk nginap lagi di rumahnya malam itu. Tapi, heh,, kalo 1 malam OKlah, soalnya kami menghargai dia juga, tapi kalo udah lebih dari 1 malam, wah gawat itu, kami menjadi seperti parasit di rumahnya, lagian memang ga enak kan cowo nginap di rumah cewek. Kalo gw waktu itu dapat penginapan bagus, pasti gw akan menginap lebih dari 1 malam, soalnya gw pengen keliling2 Tarutung sekalian menghabiskan sisa liburan waktu itu. Tapi lain kali deh, gw pasti ke sana lagi.
Ya udah, setelah semuanya selesai dipersiapkan kami bergegas pulang. Tapi bapaknya Esther udah nelpon ke Pool MRT buat menjemput kami di rumah Esther. Heee…bahkan untuk pulang aja kami masih merepotkan…,,Ga beberapa lama mobilnya datang dan kami pamit pulang ke Bapaknya Esther dan ke Esther juga, bilang makasih banyak sama dia atas semuanya yang udah bikin dia jadi repot.
Kalo gw, Rimhot, sama Ferdinan ke Siantar, 2 temen gw yang lain, Leo ama Dolly mereka turun di kampus gw untuk tinggal di asrama. Setelah perjalanan kira-kira 3 1/2 jam, gw sampai di Siantar. Karena udah jam 1/2 9 malam, gw nelpon ke Tulang gw buat ngejemput gw di Siantar. Setelah nyampe di rumah Oppung, gw langsung mandi dan makan, terus ke rumah Tante gw buat tidur. Badan gw capek banget abis jalan seharian itu, makanya gw tidur lelap banget, tapi keesokan harinya gw ngerasa badan pada pegel-pegel semua, terutama pinggang sama punggung.

Demikianlah cerita panjang perjalanan gw ke Tarutung waktu liburan UAS kemarin, kurang puas soalnya cuma 1 malam disana. Kapan-kapan gw harus ke sana lagi dan nginap lebih dari 1 malam, biar puas menjalani kota Tarutung. Selama gw tinggal di Sumatera Utara, baru sedikit daerah yang gw jelajahi. Palingan kayak Siantar, Medan, Tebing Tinggi, Balige, Porsea, Parapat, Tomok, Tuktuk, dan kemarin ke Tarutung(Eh, ternyata udah banyak juga yah..=)). Tujuan gw berikutnya adalah kota Sibolga, terus Brastagi, abis itu Sidikalang, apalagi yah??Kayaknya banyaklah sebelum gw lulus dari kampus gw.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: